Selasa, April 29, 2025

Cinta Tidak Menunggu Pemberitahuan

 

 Puisi reflektif oleh Santana Martins, terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus

Cinta bukan kontrak yang bersyarat,
bukan janji yang tergantung pada musim hati,
dan bukan perasaan yang menguap saat ujian datang.

Cinta, kata Paus, adalah keputusan yang kudus—
ia tidak berkata, “Aku di sini... sampai aku merasa cukup.”
Cinta sejati tidak mencintai sementara,
ia mencintai sepenuhnya.

Dalam kasih yang ilahi,
tiada ruang untuk frasa “hingga pemberitahuan selanjutnya.”
Karena kasih yang sejati tidak hidup di dalam ketakutan,
tetapi di dalam keberanian untuk menetap.

Cinta adalah perjanjian,
bukan pilihan sesaat.
Ia mengakar di tanah pengorbanan,
dan bertumbuh di udara pengampunan.

Ia bertahan bukan karena mudah,
tetapi karena ia tahu:
yang abadi itu bukan milik yang kuat,
tetapi milik yang setia.

Tuhan sendiri telah mengajarkan kita,
melalui salib dan tubuh yang terluka:
bahwa cinta yang sejati,
tidak mencari alasan untuk pergi—
tetapi selalu mencari jalan untuk tinggal.

Maka jika engkau mencinta,
jangan bawa keraguan di hatimu,
bawalah niat yang suci,
dan keberanian untuk berkata:
“Aku di sini. Selamanya.”

Catatan Konteks Puisi:
Puisi ini ditulis oleh Santana Martins, terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus yang pernah disampaikan secara mendalam dalam refleksi beliau mengenai makna sejati cinta. Dalam pernyataan yang juga dipublikasikan oleh The New York Times, Paus berkata:
“Love wants to be permanent; ‘until further notice’ isn’t love.”
(“Cinta ingin kekal; ‘hingga pemberitahuan selanjutnya’ bukanlah cinta.”)

Pesan ini mengingatkan kita bahwa cinta, baik dalam hubungan manusia maupun dalam relasi dengan Tuhan, adalah keputusan yang bersifat kekal, bukan sekadar perasaan sementara. Puisi ini lahir sebagai bentuk renungan dan jawaban dari hati yang merindukan kasih yang tinggal, bukan pergi.

 

Regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025

 https://id.tatoli.tl/2025/04/28/regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025/ 

Sabtu, April 05, 2025

"04 April 2021, Air Membawa Luka"

 


"04 April 2021, Air Membawa Luka"

Dili, Timor-Leste

Di pagi buta yang tak menjanjikan terang,
Langit menangis deras tanpa jeda,
Dili, kota kecil penuh kenangan,
Tenggelam dalam sunyi yang membawa derita.

Air bukan sekadar genangan,
Ia datang seperti kemarahan yang tak tertahan,
Menyeret ranjang, mimpi, dan doa-doa,
Meninggalkan jejak lumpur di dada manusia.

Tangan kecil mencari ibu,
Tangis tenggelam di arus yang tak tahu arah,
Nama-nama hilang tanpa pamit,
Tertulis hanya di hati yang basah.

Tiang listrik tumbang seperti harapan,
Jalanan pecah seperti nasib yang dipatahkan,
Rumah hanyut—bukan oleh waktu,
Tapi oleh air yang tak pernah tahu belas kasihan.

Dan kota pun seolah lupa,
04 April menjadi kabut di arsip negara,
Padahal di sanalah nyawa-nyawa
Pernah berjuang melawan sia-sia.

Namun kami ingat, kami simpan,
Dalam puisi, doa, dan batu nisan,
Agar generasi mendatang tak hanya membangun tembok,
Tapi juga ingatan—dan kesiapsiagaan yang kokoh.

04 April, luka kami bukan untuk dikubur,
Tapi untuk dikenang sebagai pelajaran yang jujur.
Bukan untuk dendam,
Tapi agar air tak lagi membawa karam.

Kamis, April 03, 2025

O País das Promessas

By Martins, S.

No palco, falam com voz segura,
Promessas sobem como a altura.
Dizem que o povo terá fartura,
Mas a mesa ainda está nua.

Prédios altos, luxo sem fim,
Enquanto estradas caem, assim.
Escolas sem teto, livros rasgados,
Sonhos de jovens, todos quebrados.

Carros de luxo cruzam velozes,
Mas ambulâncias? Sempre precoces.
Nos gabinetes riem à vontade,
Enquanto mães choram na cidade.

Dizem que o país é de todos nós,
Mas só alguns têm voz.
O povo fala, o vento leva,
Só escutam quando a eleição se eleva.

Oh, Timor-Leste, minha terra querida,
Quando terás liderança digna?
Não só palavras, nem só discurso,
Mas trabalho real, sem retrocesso.

#final#

Selasa, Maret 25, 2025

Na Limiar da Porta


 Na Limiar da Porta

By Martins,S

Vejo o fim à beira da porta,
Uma luz que brilha, mas se apaga,
O futuro que já não brilha mais,
Bate contra uma alma frágil, cheia de incertezas.

O céu cinza envolve os passos,
Sonhos que se apagam na escuridão,
A luta que nunca se termina,
Torna-se uma história sombria, sem fim.

A esperança cada vez mais distante,
Como uma sombra que se perde,
Mas por trás dos escombros da alma,
Há uma chama que insiste em não se apagar.

Mesmo que o caminho seja de espinhos,
Mesmo que o mundo continue a tremer,
Cada passo, mesmo vacilante,
Ainda carrega uma vontade que não se perde.

Sabtu, Maret 08, 2025

Women, the Light of the World


 Women, the Light of the World

By Martins.S.

Women, you are the light of the universe,
Born from struggle, nurtured with love.
Your steps are not just footprints on the earth,
But echoes that shape history’s path.
You plant hope in barren lands,
Build dreams despite the storms.
Fate never bends your will,
For your heart is forged in steel.

From your hands, the world learns resilience,
From your love, boundless strength is born.
From your courage that never fades,
From your loyalty that never sways.
Today is more than just a celebration,
It is a voice that must be heard.
For women are not shadows behind,
But the light that brightens the world.

Women, the Architects of Change
You are the architects of hope and change,
With hands that heal and hearts that rearrange.
In your eyes, the fire of endless possibilities,
You rise, defying every boundary, every adversity.

You are the warriors in silence, the voices in the night,
Guiding us with wisdom, showing us the light.
Your stories are the backbone of every nation,
Your dreams are the seeds of transformation.

Today, we honor not just your grace,
But the power that shines through your embrace.
For women, you are not just a part of the tale,
You are the heart that makes humanity prevail.

Happy International Women's Day! ✨💜

Jumat, Maret 07, 2025

Mentari yang Menari di Dusun Blar

 

by Martins.S

Beberapa abad yang lalu, di sebuah dusun kecil bernama Blar, di Desa Maior, hiduplah seorang gadis bernama Lurinha. Ia seperti embun pagi yang menyejukkan dedaunan, selalu membawa cahaya bagi siapa pun yang mendekat. Senyumnya tak pernah pudar, langkahnya ringan seperti angin yang membelai ladang gandum.

Namun, hidup di Dusun Blar tak seindah dongeng para leluhur. Orang-orang di sana percaya bahwa kebahagiaan harus dibayar dengan penderitaan. Mereka takut jika terlalu banyak tertawa, maka kesedihan besar akan segera datang, seperti air pasang yang menelan perahu di lautan.

Lurinha berbeda. Ia percaya bahwa hidup adalah tarian semesta, di mana setiap manusia adalah penari yang harus bergerak mengikuti irama waktu. Setiap pagi, saat fajar merekah, ia menari di ladang, membiarkan mentari menyapa wajahnya, membiarkan angin membisikkan kisah-kisah lama. Anak-anak sering mengikutinya, melompat riang di antara ilalang. Tapi tidak semua orang di dusun menyukai kebiasaannya itu.

Di sudut dusun, hiduplah seorang lelaki tua bernama Velo. Wajahnya keras seperti batu karang, matanya suram seperti langit sebelum badai. Ia pernah kehilangan keluarganya dalam satu malam petaka, dan sejak saat itu, hatinya membeku seperti tanah di musim dingin. Ia percaya, kegembiraan adalah awal dari malapetaka.

Suatu pagi, ketika Lurinha menari di tengah ladang, Velo datang dengan tatapan api.

“Mengapa kau selalu bersuka ria, Lurinha? Mengapa kau menari sementara kita semua hidup dalam penderitaan?” suaranya seperti guntur di langit senja.

Lurinha menghentikan tariannya dan menatap lelaki tua itu dengan lembut. “Tuan Velo,” katanya, “Aku sadar perjuangan ini mungkin dua arah, namun satu tujuan. Kita semua ingin bertahan, ingin hidup dengan damai. Tapi mengapa kau melampiaskan segala bentuk amarahmu padaku? Aku hanya seperti mentari yang menari, membawa secercah cahaya di antara pekatnya malam.”

Velo menggeram. “Cahaya itu tak akan bertahan, Lurinha. Malam akan selalu datang dan menelan semua sinar yang kau bawa.”

Lurinha tersenyum kecil. “Benar, malam akan datang. Tapi tidakkah kau tahu, tuan? Setiap malam yang gelap selalu berakhir dengan fajar. Tak ada malam yang tak bertemu pagi. Tak ada luka yang tak bisa sembuh. Tak ada hati yang tak bisa kembali hangat.”

Orang-orang di dusun terdiam. Kata-kata Lurinha menggema di hati mereka, seperti lonceng yang berdentang di ujung senja. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: benarkah kita harus terus hidup dalam bayang-bayang duka?

Velo menunduk. Hatinya yang lama terkunci, perlahan retak seperti es di tepi sungai yang mulai mencair. Ia melihat Lurinha, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya—kehangatan.

Sejak hari itu, mentari di Dusun Blar terasa lebih terang. Bukan karena cahayanya berubah, tapi karena hati orang-orang mulai terbuka. Lurinha tetap menari, dan perlahan-lahan, satu per satu orang mulai mengikuti langkahnya.

Sebab, seperti kata leluhur: “Jangan takut mencintai hidup, sebab meski badai datang, selalu ada pelangi yang menunggu di balik awan.”

Tamat

Dukamu Adalah Dukaku, Dukaku Adalah Dukaku


 Dukamu Adalah Dukaku, Dukaku Adalah Dukaku
By Martins.S

Dukamu adalah dukaku,
aku merasakan perih di matamu,
menyusuri jejak pedih yang kau simpan,
mendengar sunyi yang kau sembunyikan.

Namun, dukaku adalah dukaku,
tak bisa kau genggam atau kau bawa,
ia milikku, biarkan ia diam,
menemani malam tanpa janji reda.

Kita berjalan di jalan yang berbeda,
kadang beriringan, kadang berjauhan,
dukamu mungkin bisa kutemani,
tapi dukaku tetap milikku sendiri.

Jangan paksa aku membagi luka,
karena tak semua derita perlu saksi,
cukup pahami tanpa menggenggam,
cukup ada tanpa memaksa.
#final#

Sabtu, Maret 01, 2025

Ter Consciência

By: Martins.S.


Eu preciso ter consciência,
não apenas me olhar no espelho,
mas despir minhas fraquezas
sem desculpas, sem enganos.

Ainda sou falho, ainda sou frágil,
não me perdi uma ou duas vezes,
não foi apenas um erro de direção,
mas muitas vezes escolhi caminhos sem saída
com arrogância, com teimosia.

Muitas vezes não fui honesto,
com os outros, comigo mesmo,
escondendo minhas falhas
com palavras, não com mudanças.

Muitas vezes não respeitei o tempo,
querendo crescer rápido, vencer logo,
mas meus passos ainda vacilam,
minha mente ainda não é firme, meu conhecimento ainda é raso.

E agora quero responsabilidade,
quero controle, quero poder,
mas no fundo hesito,
no fundo nem confio em mim mesmo.

Não tenho experiência,
não entendo as regras,
não sei como conduzir,
mas ainda assim quero estar no topo,
por quê? Para quê?

Preciso ter consciência.
Não para diminuir meus sonhos,
mas para perceber antes de cair,
para me reerguer aprendendo,
para seguir no caminho certo.

Jumat, Februari 28, 2025

Tangga yang Dilompati

 

by Martins.S

Di langit teduh, angin berbisik,
Tentang kisah yang tampak ajaib.
Bukan batu jadi permata,
Tapi daun kering melayang ke singgasana.

Katak kecil melompat tinggi,
Tak berjejak, tak meniti.
Tak berkeringat, tak berjuang,
Tapi tiba-tiba duduk di puncak terang.

"Bagai benang tanpa jarum,"
Menjalin kisah tanpa sulaman tersusun.
"Bagai perahu tanpa pendayung,"
Terapung megah, tapi hanyut tak menentu.

Orang-orang hanya menatap sendu,
Melihat tangga yang tak lagi berliku.
"Bagai buah setengah masak,"
Dipetik paksa, rasanya hambar dan pahit terasa.

Namun waktu punya caranya sendiri,
Ia tak pernah tertipu ambisi.
Sebab "padi makin berisi kian merunduk,"
Dan yang sombong, cepat atau lambat akan rubuh.

Senin, Februari 24, 2025

Doa dan Cinta

 

By: C&G  

Doa dan Cinta adalah Suatu cerita inspirasi diri dari pesangan C&G dalam kehidupan mereka hari ini diungkapan dalam cerita pendek(CERPEN) ini yang dikembangkan 

oleh Penulis Martins.S. 


Sejak SMA, aku telah menanam benih impian dalam taman hatiku: sukses meraih cita-cita dan menemukan pasangan hidup yang seindah rembulan di malam cerah. Setiap malam, dengan hati yang penuh harap, aku berbisik pada langit, menitipkan harapan dalam untaian doa. Seperti embun yang tak pernah ingkar menyapa pagi, aku yakin Tuhan mendengar dan menyiapkan kejutan terbaik untukku. Tak terhitung berapa kali aku menutup mata, membayangkan sosok yang akan hadir dalam hidupku—seseorang yang akan menjadi tempat bersandar ketika lelah, yang akan menggenggam tanganku erat dalam setiap perjalanan, dan yang akan tetap setia, bahkan ketika dunia berusaha menguji keteguhan hati kami. Aku percaya, doa bukan hanya sekadar kata-kata yang terucap, melainkan janji yang kelak akan ditepati oleh semesta pada waktu yang tepat.

Takdir pun memainkan perannya. Pada tanggal 5 Februari 2012, angin kehidupan membawaku kepadanya. Ia datang seperti matahari di musim dingin, menghangatkan dan menyinari jalanku yang sebelumnya terasa samar. Kehadirannya bagaikan jawaban atas doa-doaku selama ini, menghadirkan ketenangan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.

Ia bukan hanya sekadar tampan dalam pandangan dunia, tetapi juga indah dalam kebijaksanaan. Kata-katanya selalu sarat makna, mengajarkanku bahwa hidup bukan hanya tentang meraih impian, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Aku merasa beruntung telah menemukan seseorang yang mampu memahami isi hatiku tanpa aku harus mengungkapkannya.

Layaknya sungai yang setia mengalir ke muara, ia selalu ada. Ia membimbing dan menyayangi tanpa syarat, menguatkanku di saat aku merasa goyah. Tak pernah sekalipun ia membuatku merasa sendirian. Setiap langkahnya menunjukkan ketulusan, dan setiap sentuhannya mengajarkanku makna cinta yang sejati.

Meski ada satu sifatnya yang kerap menguji kesabaranku, aku sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Aku pun belajar menerima bahwa cinta bukan tentang mencari seseorang yang sempurna, melainkan tentang mencintai dengan hati yang lapang dan penuh ketulusan.

Perjalanan kami bukan tanpa badai. Di antara derasnya hujan cobaan, kami berteduh dalam payung kesabaran. Rintangan demi rintangan datang silih berganti, tetapi keyakinan kami tak tergoyahkan. Seperti kapal yang tetap berlayar di tengah samudra, kami berpegang pada satu kompas: cinta yang berlandaskan doa.

Pada Juli 2014, kami bersatu dalam ikatan suci meski belum dalam pelukan altar gereja. Janji yang kami ikrarkan bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah komitmen untuk saling menjaga dan mendukung. Setiap langkah kami diiringi oleh harapan, bahwa kebersamaan ini akan terus bertumbuh dan bersemi.

Waktu pun melukis kisah kami dengan indah, menghadirkan empat permata kecil yang melengkapi kebahagiaan. Mereka adalah anugerah, cahaya dalam setiap langkah kami. Namun, perjalanan menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Kami belajar, jatuh, dan bangkit kembali demi mereka. Seperti benih yang tumbuh menjadi pohon rindang, cinta dan kesabaranlah yang menjadi pupuknya.

Butuh perjuangan untuk menghadirkan garis dua di test pack, tetapi seperti pohon yang tumbuh kokoh karena diterpa angin, cinta kami semakin kuat karena doa dan usaha. Setiap tetes air mata yang jatuh berubah menjadi senyuman, dan setiap pengorbanan menjadi batu pijakan menuju kebahagiaan. Tuhan selalu punya cara untuk menjawab doa, meskipun tak selalu dalam bentuk yang kita harapkan.

Kini, di tahun ke-11 perjalanan ini, kami belajar bahwa doa adalah jembatan antara harapan dan kenyataan. Setiap doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus akan menemukan jalannya menuju takdir yang terbaik. Doa bukan sekadar permohonan, tetapi juga bentuk keyakinan bahwa Tuhan selalu punya rencana indah untuk kita.

Ketulusan hati adalah kunci, dan kesabaran adalah pintu yang mengantarkan pada keindahan yang hakiki. Seperti hujan yang tak selamanya turun atau fajar yang selalu menyingsing setelah malam, hidup mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti memiliki akhirnya. Kami percaya, dalam setiap doa yang terucap, Tuhan menitipkan jawaban yang akan datang pada waktu yang tepat.

Percayalah, langit tak akan selamanya mendung, dan matahari akan selalu terbit bagi mereka yang percaya. Aku memang percaya bahwa Tuhan adalah segalanya karena Tuhan tahu akan segala yang ku mau, dan selalu mengarahkan ke mana aku akan pergi. Dia mengarahkanku melalui Mama, Bapak, saudaraku, dan akhirnya Dia percaya sang suamiku menjadi tumpuan terakhir dalam mengarahkan arahku ke mana aku akan pergi dan juga pelengkap hidupku. Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang selalu bersyukur dan tak henti berharap. Kami belajar bahwa cinta bukan hanya tentang bertahan di saat suka, tetapi juga tentang menggenggam erat di saat duka. Sebab dalam badai sekalipun, selalu ada cahaya yang menuntun.

Jadilah pribadi yang baik, maka Tuhan akan menghadirkan seseorang yang baik pula dalam hidupmu. Karena pada akhirnya, cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, tetapi tentang mencintai seseorang dengan sempurna. Ketika dua hati saling melengkapi, bukan kesempurnaan yang dicari, melainkan keikhlasan untuk saling menerima dan bertumbuh bersama.

#Bersambung#

 

Kamis, Februari 20, 2025

A História de Siarai, pastor de búfalos


Por; Martins S. 

Numa pequena aldeia chamada Bereleu, Suco Lesululi, vivia um menino chamado Siarai. Ele era filho de um agricultor e, ao mesmo tempo, pastor de búfalos. Desde pequeno, acostumou-se a uma vida de responsabilidades e trabalho árduo. Como diz o ditado, quem aprende cedo, domina com facilidade, e ele foi moldado pela natureza e pela vida cheia de significados.

Todas as manhãs, antes do sol aparecer no horizonte, exatamente às 4h, Siarai já estava de pé. Com passos ágeis, caminhava até o poço para tirar água. Essa água era usada para lavar os utensílios de ordenha dos búfalos. Em seguida, ele começava a soltar os bezerros um a um para que pudessem mamar em suas mães. Esse processo era essencial, pois somente assim as mães produziam mais leite. Depois que todos os bezerros eram amamentados, Siarai e seu irmão mais velho, Maubere, começavam a ordenhar as búfalas. Como diz o provérbio, quem semeia, colhe, e seu esforço nunca era em vão.

Por volta das 5h30, quando o céu começava a clarear, eles se preparavam para levar os búfalos para os vastos e verdes pastos. Enquanto esperavam o sol nascer completamente, o leite recém-ordenhado era imediatamente fervido. Esse leite fazia parte de seu café da manhã e, às vezes, era guardado para o almoço ou jantar. Isso demonstrava que cada recurso deveria ser bem aproveitado, sem desperdício. Economizar hoje, prosperar amanhã.

Depois de tudo pronto, Maubere levava o rebanho para o pasto ou para as margens dos campos de arroz férteis, enquanto Siarai se preparava para ir à escola. Ele precisava se apressar para chegar antes das 7h30, quando as aulas começavam. Sabia que a educação era a chave para um futuro melhor. Como diz o ditado, o conhecimento é a luz na escuridão.

Ao meio-dia, por volta das 13h, Siarai voltava para casa após a escola. Sem perder tempo, trocava de roupa e preparava o almoço para seu irmão, que ainda estava no campo com os búfalos. Depois que a comida estava pronta, ele a levava para o pasto e convidava Maubere para comerem juntos. Às vezes, tinham legumes, outras vezes apenas leite de búfala recém-ordenhado. Mas sempre eram gratos pelo que tinham, pois sabiam que a fortuna vem para aqueles que trabalham.

Após o almoço, passavam um tempo relaxando. Levavam o rebanho para o lago, onde os búfalos podiam beber água e se refrescar, aliviando o calor escaldante da tarde. Aproveitavam esse momento para conversar, compartilhar sonhos e pensar em formas de melhorar a economia da família. Um bom agricultor não apenas cultiva a terra, mas também planeja o futuro.

Ao entardecer, começavam a reunir o rebanho para levá-lo de volta para casa. Durante o caminho, sempre contavam os búfalos para garantir que nenhum estivesse faltando ou que algum tivesse se misturado com outro rebanho. Às vezes, os búfalos machos se afastavam e se juntavam aos de outros donos. Somente depois de verificar que o número estava correto, seguiam para casa.

Ao chegarem ao curral, havia uma última tarefa importante antes do anoitecer: separar os bezerros de suas mães. Isso era essencial para que eles não mamassem durante a noite, garantindo que, na manhã seguinte, pudessem ser novamente alimentados e que Siarai e Maubere conseguissem ordenhar o leite necessário.

Essa rotina se repetia todos os dias. Apesar do cansaço, para Siarai, era parte de sua vida – uma vida de trabalho árduo, união e amor pela natureza e pelos animais que criavam. Ele acreditava que um futuro brilhante o aguardava. Com determinação e esforço, um dia poderia trazer mudanças para sua família e sua aldeia. Quem persiste, alcança o topo dos sonhos.

Gelombang di Desa Kupla Raiflok

By Martins,S. 

Gelombang di Desa Kupla Raiflok

"Perjuangan bukan tentang siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang tidak menyerah."

Di sebuah desa kecil bernama Kupla Raiflok, hiduplah tiga sahabat sejati: Buibu, Buisa, dan Mauklo. Mereka bertiga telah tumbuh bersama, melewati musim kemarau yang panjang dan hujan deras yang sering membawa banjir. Hidup di desa ini penuh tantangan, tetapi kebersamaan membuat mereka tetap bertahan.

Suatu hari, awan kelabu menggelayuti desa mereka. Sebuah proyek besar akan dibangun tak jauh dari desa. Konon, proyek itu membawa kemajuan, tetapi bagi mereka bertiga, itu lebih menyerupai ancaman. Jalan setapak yang mereka lalui sejak kecil akan dibongkar, sawah yang menjadi sumber kehidupan akan digusur, dan rumah-rumah mereka terancam hilang.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Buibu, suaranya gemetar. Ia biasanya pendiam, tetapi kali ini ia tak bisa menyembunyikan kecemasannya.

"Kita harus melawan! Desa ini adalah rumah kita," tegas Buisa. Ia selalu penuh semangat dan tak pernah takut menghadapi tantangan.

Mauklo yang sejak tadi diam, akhirnya menghela napas panjang. "Melawan siapa? Mereka punya uang, punya kuasa. Sedangkan kita?"

Mereka bertiga terdiam. Sejak kecil, mereka tahu bahwa dunia tak selalu adil bagi orang-orang kecil seperti mereka. Tapi apakah itu berarti mereka harus menyerah?

"Harapan adalah cahaya kecil yang mampu menerangi kegelapan sebesar apa pun."

Malam itu, mereka berdiskusi dengan para tetua desa. Semua orang cemas, tetapi juga marah. Mereka tak ingin meninggalkan tanah yang telah mereka jaga selama bertahun-tahun.

"Jika kita bersatu, kita bisa menyuarakan hak kita," ujar seorang tetua desa dengan suara berat.

Maka mulailah perjuangan mereka. Mereka mengumpulkan tanda tangan, mendatangi kantor pemerintahan, dan berusaha menyampaikan suara mereka. Namun, sekeras apa pun mereka berusaha, seolah-olah tak ada yang peduli. Hari demi hari, mereka dihantui ketakutan bahwa desa mereka akan lenyap begitu saja.

"Ketakutan hanya akan menang jika kita memilih diam. Lawan dengan keberanian, meski kecil sekalipun."

Hingga suatu pagi, Buibu, yang biasanya takut-takut, berdiri di tengah lapangan desa dengan suara lantang:

"Kita harus tetap bertahan! Jika kita mundur sekarang, kita akan kehilangan segalanya."

Kata-katanya membakar semangat semua orang. Mereka tak lagi sekadar menunggu, tetapi benar-benar bertindak. Hingga akhirnya, berita perjuangan mereka sampai ke telinga banyak orang. Dukungan datang dari berbagai pihak, dan tekanan terhadap pihak proyek semakin besar.

Hari itu pun tiba. Keputusan dibuat. Pemerintah akhirnya setuju untuk merelokasi proyek itu ke tempat lain tanpa menggusur desa mereka.

Mereka bertiga, Buibu, Buisa, dan Mauklo, berdiri di atas bukit kecil di tepi desa, menatap sawah yang tetap hijau. Mereka tahu, perjalanan ini sulit dan penuh ketegangan. Tetapi mereka juga menyadari satu hal—masa depan tidak akan menghancurkan mereka, selama mereka tetap bersatu.

"Badai akan selalu datang, tetapi mereka yang berakar kuat tak akan tumbang."