Selasa, Januari 20, 2026

Skeptisisme Politik Kesehatan dan Ancaman Cengkeraman Oligarki (CERPEN)

Oleh: Santana Martins


Pendahuluan

Aku menatap layar pengumuman rumah sakit, angka-angka berjejer seperti tentara yang menunggu perintah. Obat yang seharusnya tersedia minggu ini, masih kosong. Janji perbaikan sistem kesehatan terdengar nyaring di media, tapi di ruang tunggu yang dingin, janji itu hanyalah gema.

Dulu, aku percaya. Aku percaya bahwa suara warga bisa membentuk kebijakan, bahwa kerja keras di bangsal, di meja administratif, dan di ruang rapat, bisa menggerakkan sistem menuju keadilan. Aku percaya, sampai aku mulai melihat pola: proyek yang seharusnya menyentuh pasien yang paling membutuhkan sering terhambat oleh prosedur yang kompleks.

Anggaran yang diklaim untuk pelayanan publik terlihat besar, tapi kenyataannya tidak selalu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan di lapangan. Setiap keputusan tampak transparan, tapi hasilnya tidak selalu sesuai harapan.

Skeptisisme muncul perlahan, seperti kabut tipis yang merayap di pagi hari. Bukan apatisme, bukan juga putus asa, tapi kesadaran pahit: demokrasi di sektor kesehatan bukan hanya tentang prosedur, melainkan tentang bagaimana keputusan memengaruhi akses nyata bagi warga.

Aku berbicara dengan rekan-rekan, dokter dan perawat yang sehari-hari menunggu perubahan. “Sistem ini rumit,” kata seorang teman. “Kita harus bekerja di antara prosedur dan kebutuhan nyata pasien.”

Kata-kata itu menempel di pikiranku. Tidak ada wajah atau nama yang disalahkan, hanya kenyataan: obat yang tak datang, anggaran yang terbatas, harapan yang tertunda, dan kelelahan moral yang dirasakan oleh banyak tenaga kesehatan.

Di koridor rumah sakit, suara langkah kaki terdengar panjang dan teratur. Setiap langkah mengingatkan aku bahwa di balik angka dan laporan, ada manusia yang menunggu—orang-orang yang bergantung pada keputusan yang kadang jauh dari mereka.

Ruang tunggu dipenuhi pasien dari semua lapisan, tapi wajah-wajah itu mulai tampak sama: menunggu, pasrah, dan diam. Diam ini bukan ketidakpedulian, tapi tanda bahwa sistem kesehatan memiliki dinamika yang kompleks, di mana suara warga tidak selalu terdengar.

Seorang pasien tua menatapku dengan mata yang dalam. Ia tidak bertanya tentang obatnya, tapi tentang kepastian. Ada yang menenangkan hatinya, tapi aku tidak bisa memberikan jawaban pasti. Aku hanya bisa mencatat.

Aku mulai menulis di buku catatanku, mendokumentasikan setiap ketidaksesuaian antara janji dan kenyataan. Setiap rak kosong, setiap pasien yang menunggu, setiap laporan yang tampak rapi tetapi tidak lengkap, adalah simbol dari realitas yang tersembunyi.

Malam hari, rumah sakit tetap menyala. Lampu-lampu yang lembut menyoroti koridor panjang, mengingatkan aku bahwa pekerjaan ini bukan tentang keberhasilan instan, tapi tentang ketekunan.

Aku menyadari bahwa skeptisisme bukan sekadar pemikiran, tapi kesadaran yang lahir dari pengalaman langsung. Ini adalah teman sunyi yang memandu aku melalui kompleksitas sistem kesehatan.

Dalam diam, aku menatap pasien-pasien yang menunggu. Mereka tidak menuntut banyak, hanya ingin keadilan kecil—obat tersedia, layanan diterima, perhatian diberikan.

Setiap wajah adalah pengingat bahwa pekerjaan kita bukan hanya tentang angka dan laporan, tapi tentang kehidupan manusia yang nyata.

Aku menutup mata sejenak, mencoba merasakan denyut skeptisisme yang kini menjadi bagian dari diriku. Ia bukan beban, tapi cahaya kecil yang menunjukkan arah moral.

Malam semakin larut. Aku menulis lagi, menambahkan catatan tentang prosedur, alokasi, dan dampak nyata pada pasien. Setiap kalimat adalah upaya untuk memastikan bahwa realitas ini tidak hilang begitu saja.

Aku sadar bahwa skeptisisme ini akan terus bersamaku, selama aku tetap bekerja di sistem yang kompleks ini.

Setiap catatan yang kubuat menjadi saksi, bukan untuk menuduh, tapi untuk memastikan bahwa suara pasien tetap terdengar, meski di tengah prosedur dan kebijakan yang rumit.

Aku menatap jendela rumah sakit. Kota tidur, tapi pikiranku tetap waspada. Skeptisisme telah menjadi teman yang membimbing aku untuk tetap mencatat, tetap peduli, dan tetap jujur terhadap realitas.

Observasi dan Skeptisisme

Setiap hari membawa tantangan baru. Aku memperhatikan distribusi obat, mengamati antrean pasien, mencatat ketidakseimbangan yang sering muncul di laporan resmi.

Tidak ada yang salah secara formal, tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Obat-obatan yang paling dibutuhkan sering terlambat tiba, sementara stok untuk kebutuhan lain tampak melimpah.

Aku berdiskusi dengan beberapa perawat dan staf administrasi. “Ini bukan kesalahan siapa-siapa,” kata mereka. “Sistem memang kompleks, dan alokasi sering berubah.”

Aku menyadari bahwa skeptisisme yang muncul bukan untuk menuduh, tapi untuk memahami pola dan dampak dari setiap keputusan yang diambil.

Hari demi hari, aku mencatat, membandingkan data, dan mengamati bagaimana prosedur administratif terkadang memengaruhi pasien paling rentan.

Rak obat kosong di satu sisi, sementara rak lain penuh dengan stok obat yang jarang digunakan. Kontras ini membuat aku terus mempertanyakan bagaimana keputusan dibuat.

Aku menulis ulang catatan setiap malam, menambahkan observasi tentang pasien yang menunggu lama, staf yang kelelahan, dan sistem yang tampak berjalan lambat.

Dialog ringan dengan dokter dan perawat membantu aku melihat perspektif lain. Mereka bekerja keras, tapi tetap terikat oleh prosedur dan birokrasi yang tidak fleksibel.

Aku menyadari bahwa skeptisisme yang kutumbuhkan adalah bentuk kesadaran moral, bukan ketidakpercayaan pribadi. Ini tentang memahami bagaimana sistem bekerja dan dampaknya terhadap orang yang bergantung padanya.

Di ruang tunggu, wajah pasien menjadi refleksi nyata dari apa yang tidak tercatat di laporan resmi. Harapan, kesabaran, dan kecemasan mereka adalah indikator yang tidak bisa diabaikan.

Setiap hari adalah pengingat bahwa angka dan statistik hanyalah representasi parsial dari kenyataan. Ada cerita manusia di balik setiap data yang tampak rapi.

Aku mulai mengembangkan metode catatan pribadi: membandingkan angka distribusi dengan pengalaman pasien, mendokumentasikan setiap ketidaksesuaian, dan mencatat reaksi staf terhadap situasi ini.

Dalam proses ini, skeptisisme menjadi alat untuk memahami kompleksitas sistem, bukan alat untuk mengkritik secara personal.

Aku belajar melihat pola, bukan kesalahan individu. Distribusi obat, antrean pasien, dan laporan administrasi semuanya memiliki hubungan sebab-akibat yang sering tersembunyi.

Mata pasien, tangisan bayi, atau raut wajah lelah perawat, semuanya menjadi simbol yang menguatkan pemahaman aku tentang realitas sistemik.

Aku menulis tentang harapan yang tertunda, tentang obat yang tidak tiba tepat waktu, dan tentang bagaimana staf berusaha mengimbangi kekurangan tersebut.

Skeptisisme kini menjadi pengingat harian: bahwa memahami sistem berarti melihat lebih dari sekadar prosedur formal.

Setiap malam, buku catatanku semakin tebal. Setiap halaman adalah saksi bisu dari pengalaman manusia di balik angka dan statistik.

Aku menutup mata sejenak, menyadari bahwa skeptisisme ini bukan kelemahan, tapi cahaya kecil yang membimbing aku melalui tantangan moral dan profesional.

 

Dampak Nyata Sistemik

Rak-rak obat di rumah sakit tampak kontras. Beberapa rak kosong, beberapa rak penuh dengan obat yang jarang digunakan. Kontras ini bukan sekadar visual, tapi simbol dari tantangan distribusi yang nyata.

Setiap pasien yang menunggu menambah beban moral dalam hatiku. Mereka bukan angka, tetapi manusia dengan kebutuhan yang konkret dan mendesak.

Aku menyadari bahwa sistem ini bukan tentang siapa yang salah atau benar, tapi tentang bagaimana prosedur dan keputusan memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Di ruang tunggu, seorang ibu menahan tangis. Bayinya demam tinggi, obat yang dibutuhkan tidak tersedia. Aku merasakan ketegangan yang mengalir, bukan karena frustrasi terhadap orang lain, tapi karena kesadaran akan keterbatasan sistem.

Setiap antrean adalah pelajaran. Pasien yang menunggu lama, pasien yang datang tanpa informasi lengkap, semuanya menjadi bukti bahwa distribusi layanan tidak selalu merata.

Aku berjalan ke farmasi dan mencatat setiap perbedaan antara stok obat dan permintaan pasien. Ada pola yang muncul: kebutuhan kritis sering tertunda, sementara kebutuhan sekunder terpenuhi.

Aku berdiskusi dengan staf administrasi. Mereka bekerja keras, tetapi sistem yang mereka ikuti tidak selalu fleksibel untuk menghadapi situasi darurat.

Seorang perawat muda menatapku dengan wajah lelah. “Kami ingin membantu semua pasien,” katanya, “tapi prosedur membatasi kami.”

Aku menulis catatan tambahan tentang interaksi ini. Setiap kata menjadi saksi tentang tantangan moral yang dihadapi staf dan pasien.

Seorang pasien tua menggenggam kartu berobatnya, menatapku dengan mata yang menanyakan kepastian. Aku hanya bisa tersenyum pelan dan mencatat di buku catatan.

Hari demi hari, aku menyadari bahwa dampak sistemik ini jauh lebih besar daripada yang tampak di laporan resmi.

Media menyoroti program distribusi obat, tetapi di lapangan, ketimpangan tetap terjadi. Aku mencatat setiap perbedaan antara laporan dan kenyataan yang kulihat.

Rak kosong bukan hanya simbol fisik, tapi simbol konsekuensi kebijakan yang tidak selalu menampung kebutuhan semua pihak.

Aku melihat bayi dan anak-anak di ruang tunggu. Tangisan mereka menjadi pengingat nyata bahwa ketidakseimbangan distribusi memiliki dampak langsung pada kehidupan manusia.

Seorang dokter menjelaskan bahwa beberapa prosedur administratif menyebabkan keterlambatan obat. Tidak ada tuduhan, hanya fakta yang harus dicatat.

Aku mulai membandingkan catatan beberapa minggu terakhir. Pola ketidakmerataan menjadi jelas: daerah tertentu lebih cepat mendapat suplai, sementara daerah lain menunggu.

Aku mencatat juga upaya staf untuk mengimbangi keterbatasan, memberikan obat cadangan, atau mengatur jadwal pasien agar tetap mendapatkan layanan.

Pengalaman ini mengajarkan aku tentang kesabaran, observasi, dan pentingnya mencatat realitas tanpa menyalahkan.

Aku menulis tentang frustrasi yang diam, tentang kesabaran pasien, dan tentang ketekunan staf. Semua menjadi bagian dari catatan moral dan profesional.

Setiap halaman catatan menjadi saksi bisu tentang ketimpangan, namun juga tentang usaha manusiawi untuk menyeimbangkan kondisi yang tidak ideal.

Aku menyadari bahwa dampak nyata sistemik ini bukan kesalahan individu, tapi konsekuensi dari kompleksitas dan keterbatasan yang melekat pada sistem.

Setiap malam aku menutup buku catatanku dengan kesadaran baru: bahwa memahami dampak sistemik adalah bagian dari tanggung jawab moral, bukan kritik personal.

Refleksi Moral dan Resolusi

Aku duduk di meja kecil di pojok rumah sakit, menatap buku catatan yang mulai menumpuk. Setiap halaman berisi pengamatan, setiap kata menjadi saksi pengalaman sehari-hari.

Skeptisisme yang selama ini kurasakan kini bukan lagi sekadar perasaan, tapi panduan moral yang membimbing tindakan dan pemikiran.

Aku merenungkan hari-hari yang telah berlalu. Pasien menunggu, staf bekerja keras, dan prosedur administratif tetap berjalan. Semua itu adalah realitas sistemik yang tidak bisa diubah hanya dengan kemarahan.

Dalam keheningan malam, aku menulis ulang catatan tentang distribusi obat, antrean pasien, dan pengalaman staf. Setiap kalimat adalah refleksi tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem yang kompleks.

Aku menyadari bahwa kritik personal tidak akan menyelesaikan masalah. Yang bisa kulakukan adalah memahami pola, mencatat realitas, dan berbagi kesadaran dengan mereka yang bisa mendengarkan.

Setiap hari aku bertemu pasien yang menunjukkan kesabaran luar biasa. Mereka menunggu tanpa mengeluh, meski kebutuhan mereka mendesak. Kesabaran mereka menjadi pelajaran moral yang kuat.

Aku merenungkan staf yang bekerja di bawah tekanan. Mereka menghadapi dilema moral: ingin melayani semua pasien, tapi prosedur membatasi kemampuan mereka.

Dialog ringan dengan perawat dan dokter membantuku melihat perspektif lain. Skeptisisme kini bukan tentang ketidakpercayaan, tapi tentang pengakuan terhadap kompleksitas dan keterbatasan sistem.

Aku menulis tentang bayi yang menunggu obat, tentang ibu yang menahan tangis, tentang pasien tua yang menatap dengan harapan. Semua itu menjadi pengingat akan dampak nyata dari keputusan sistemik.

Aku menyadari bahwa skeptisisme harus disalurkan menjadi narasi moral, bukan hanya pemikiran abstrak. Ia menjadi alat untuk memahami, bukan menuduh.

Malam demi malam aku menambah catatan. Setiap detail tentang stok obat, jadwal pasien, dan distribusi layanan menjadi bahan refleksi.

Aku belajar melihat bahwa tindakan kecil—memberikan informasi yang jelas, mencatat ketidaksesuaian, menenangkan pasien—adalah bentuk kontribusi nyata.

Aku mulai menulis panduan refleksi untuk rekan kerja: bagaimana mencatat pengalaman, bagaimana memahami ketimpangan, dan bagaimana tetap peduli meski sistem tidak sempurna.

Skeptisisme kini hadir sebagai teman setia. Ia mengingatkan aku untuk tidak pasrah, untuk tetap mencatat, dan untuk tetap peduli pada pasien yang menunggu.

Aku menutup mata sejenak, merasakan denyut moral yang mengalir dari pengalaman sehari-hari. Setiap keputusan kecil, setiap catatan, setiap pengamatan, menjadi bagian dari narasi yang lebih besar.

Aku menyadari bahwa resolusi bukan kemenangan instan. Ia adalah pengakuan bahwa keterbatasan sistem tidak membuat aku lemah, tapi menuntut aku bertindak dengan cara lain: melalui kata, dokumentasi, dan edukasi.

Setiap malam aku menulis refleksi tentang ketimpangan distribusi, tentang upaya staf menyeimbangkan kondisi, dan tentang kesabaran pasien. Semua itu menjadi bahan evaluasi moral.

Aku menulis juga tentang harapan yang tertunda, tentang prosedur yang tidak fleksibel, dan tentang bagaimana manusia berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan sistemik.

Dalam catatan terakhir malam itu, aku menyadari bahwa skeptisisme kini adalah narasi hidup yang membimbing tindakan moral dan profesional.

Aku menutup buku catatan dengan perasaan tenang. Aku tidak bisa mengubah segalanya, tapi aku bisa memastikan bahwa suara pasien, fakta tentang keterbatasan obat, dan pengalaman staf tetap terdokumentasi.

Aku tersenyum dalam diam. Skeptisisme kini bukan sekadar pemikiran, tapi bentuk kesadaran yang membimbing aku untuk tetap peduli dan tetap jujur terhadap realitas.

 

Kesimpulan

Cerita ini bukan tentang menyalahkan siapa pun, melainkan tentang memahami realitas sistemik yang kompleks. Setiap pasien, setiap staf, dan setiap prosedur memiliki peran dan dampak yang nyata.

Skeptisisme yang selama ini kurasakan ternyata bukan kelemahan, tapi kesadaran moral yang membimbing tindakan. Ia menjadi alat refleksi untuk menilai sistem tanpa menyalahkan individu.

Aku menyadari bahwa demokrasi dalam pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari prosedur formal, tetapi dari bagaimana setiap pasien menerima layanan yang adil dan layak.

Setiap catatan yang kutulis menjadi saksi bisu, memastikan bahwa pengalaman sehari-hari di rumah sakit tidak hilang dalam laporan statistik yang kering.

Observasi yang konsisten mengajarkan aku bahwa perubahan sistemik membutuhkan ketekunan, dokumentasi, dan kesabaran moral. Tidak ada kemenangan instan, tapi proses yang terus berulang dapat membentuk kesadaran kolektif.

Aku menutup mata dan membayangkan pasien-pasien yang menunggu. Kesabaran mereka adalah pengingat bahwa setiap tindakan kecil dari tenaga kesehatan memiliki dampak besar.

Skeptisisme telah berubah menjadi narasi moral yang hidup. Ia mengingatkan aku untuk tetap peduli, tetap mengamati, dan tetap mencatat setiap fakta yang penting.

Aku memahami bahwa tindakan heroik bukanlah satu-satunya jalan. Mendokumentasikan realitas, menyebarkan kesadaran, dan berbagi pengalaman dengan rekan adalah bentuk kontribusi yang nyata.

Setiap catatan tentang obat yang terlambat, pasien yang menunggu, dan prosedur yang tidak fleksibel adalah bagian dari upaya untuk membangun sistem yang lebih adil di masa depan.

Refleksi ini menegaskan bahwa kritisisme netral terhadap sistem adalah bentuk tanggung jawab profesional dan moral. Ia memastikan bahwa ketimpangan tetap terlihat dan bisa diperbaiki secara berkelanjutan.

Aku tersenyum pelan. Walau sistem tidak sempurna, setiap langkah kecil yang dilakukan dengan kesadaran moral adalah fondasi bagi perubahan yang lambat tapi pasti.

Akhirnya, aku menyadari bahwa skeptisisme bukanlah penghalang, melainkan cahaya kecil yang membimbing tindakan reflektif, mendokumentasikan fakta, dan membangun kesadaran kolektif yang bermanfaat bagi generasi mendatang.

Dalam keheningan malam, rumah sakit tetap hidup. Lampu-lampu yang lembut menyoroti koridor panjang, dan aku berjalan dengan keyakinan bahwa kesadaran moral dan skeptisisme yang sehat bisa menjadi kekuatan untuk membentuk sistem kesehatan yang lebih adil dan manusiawi.

 

£Final£

Jumat, Januari 16, 2026

pengalaman Kerja dan keadialn Karier

 https://id.tatoli.tl/2026/01/09/pengalaman-kerja-dan-keadilan-karier-pelajaran-dari-rezim-promosi-luar-biasa-tenaga-kesehatan-timor-leste-sebuah-review-kritis-atas-kerangka-regulasi/

Kamis, Januari 08, 2026

 https://www.youtube.com/watch?v=RETwZdQj-MA&pp=ygUTR01OIFNBbnRhbmEgbWFydGlucw%3D%3D

Rabu, Januari 07, 2026

Syukur yang Terbit Bersama Pagi


By Martins S.

Pagi membuka jendela waktu
dengan cahaya yang jujur dan tenang.
Embun menimbang langkah semalam,
menyisakan harap yang belum usai.

Kau beri aku Napas,
Kau beri kecerahan pada mata,
Kau beri aku kebisingan
dari berbagai sudut kehidupan.

Burung-burung mengajar sunyi berbicara,
bahwa hidup tak selalu perlu gaduh.
Napas disusun rapi oleh angin,
doa kecil bertumbuh di sela cahaya.

O, terima kasih—
Kau anugerahkan segalanya
untukku
dan untuk sesamaku.

Hari ini tidak menjanjikan mudah,
namun Kau memberi ruang untuk berani.
Kami berjalan, setia pada tujuan,
sambil belajar ikhlas dari pagi.

Citrakan aku
dengan perilaku yang tahu menghargai,
yang mampu berterima kasih,
dan setia bersyukur
dalam setiap denyut hidup.

Kamis, Januari 01, 2026

Gratidão que Nasce com a Manhã




By Martins S.

A manhã abre a janela do tempo
com uma luz honesta e serena;
o orvalho pesa os passos da noite,
guardando esperanças que não cessam.

Tu dás-me o Sopro da Vida,
clareias os meus olhos,
concedes o rumor do mundo
que ecoa de todos os cantos.

Os pássaros ensinam o silêncio a falar,
o vento organiza a respiração;
na luz discreta da manhã,
pequenas orações florescem.

Este dia não promete facilidade,
mas Tu ofereces coragem e sentido;
plasma-me num viver que sabe respeitar,

agradecer e permanecer grato.

Obrigado  

Jumat, November 28, 2025

Memaknai Peran Saudara Lelaki Sedarah dalam Keluarga Kemak

 




Oleh: Santana Martins, +670778666666

Pendahuluan

Dalam budaya Kemak, keluarga tidak dipahami sekadar sebagai kumpulan individu yang hidup bersama, melainkan sebagai satu kesatuan sosial yang diikat oleh nilai, norma, dan struktur adat yang diwariskan lintas generasi. Struktur ini mengatur peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga secara jelas, termasuk relasi antara laki-laki dan perempuan, serta mekanisme pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Salah satu peran penting dalam struktur tersebut adalah posisi saudara lelaki sedarah, yang secara adat ditempatkan sebagai figur pemegang keputusan dalam keluarga.

Pemaknaan terhadap peran saudara lelaki sedarah tidak dapat dilepaskan dari sistem patriarkal yang hidup dalam masyarakat Kemak. Namun, patriarki dalam konteks adat tidak semata-mata dipahami sebagai dominasi, melainkan sebagai sistem tanggung jawab sosial yang menempatkan kewenangan pada pihak tertentu dengan beban moral yang besar. Tulisan ini bertujuan untuk memaknai peran saudara lelaki sedarah secara reflektif dengan mengintegrasikan perspektif antropologis, psikologis, dan kesehatan masyarakat, sehingga adat dapat dipahami secara lebih utuh dan kontekstual.

Perspektif Antropologis: Saudara Lelaki dalam Struktur Adat Kemak

Kajian antropologis tentang masyarakat Timor dan kawasan Indonesia Timur menunjukkan bahwa struktur keluarga adat umumnya bersifat patriarkal, dengan otoritas keluarga dilekatkan pada figur laki-laki dalam garis kekerabatan. Dalam konteks Kemak, saudara lelaki sedarah ditempatkan sebagai pemegang keputusan dalam rumah tangga, terutama dalam hal-hal penting yang berkaitan dengan kehormatan, arah hidup, dan nama baik keluarga.

Penempatan saudara lelaki sedarah pada posisi tersebut bukanlah bentuk keistimewaan biologis, melainkan konsekuensi dari sistem tanggung jawab adat yang diwariskan lintas generasi. Saudara lelaki berdiri sebagai penyokong Ayahanda, bukan sebagai pengganti atau pesaing. Ayahanda tetap dipahami sebagai kepala rumah tangga dan simbol otoritas utama, sementara saudara lelaki berfungsi sebagai penopang yang memastikan keputusan, nilai, dan kehormatan keluarga dijaga secara konsisten. Dengan demikian, otoritas dalam keluarga bersifat kolektif di antara laki-laki sedarah.

Karena peran itulah, saudara lelaki diberi kewenangan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, termasuk keputusan yang menyangkut saudari-saudarinya. Keputusan tersebut dapat mencakup persoalan pendidikan, relasi sosial, perkawinan, mobilitas, maupun pilihan hidup lain yang dinilai berdampak pada martabat keluarga. Dalam perspektif adat, keputusan semacam ini tidak dipandang sebagai urusan pribadi semata, melainkan sebagai urusan kolektif yang konsekuensinya ditanggung bersama oleh keluarga.

Penting untuk ditegaskan bahwa struktur ini tidak dibangun atas anggapan bahwa perempuan lemah atau tidak mampu berpikir. Kajian etnografis menunjukkan bahwa perempuan Kemak memiliki peran sosial dan ritual yang signifikan, serta menjadi penjaga nilai dan keharmonisan rumah tangga. Namun, adat menempatkan perempuan dalam kerangka kolektif keluarga yang membatasi ruang pengambilan keputusan tertentu demi menjaga keteraturan sosial menurut nilai yang diwariskan.

Saudara Lelaki sebagai Amanah, Bukan Kuasa Tanpa Batas

Kewenangan saudara lelaki sedarah bukanlah kuasa tanpa batas. Ia merupakan amanah adat yang berat dan sarat tanggung jawab moral. Setiap keputusan yang diambil membawa konsekuensi sosial yang luas, mencakup martabat saudari, orang tua, serta seluruh garis keturunan. Dalam masyarakat adat, satu keputusan yang keliru dapat berdampak panjang, menimbulkan konflik antarkeluarga, merusak relasi sosial, bahkan mencederai kehormatan keluarga di mata komunitas.

Oleh karena itu, peran saudara lelaki menuntut kedewasaan, kebijaksanaan, dan kemampuan menahan diri. Kewenangan adat tidak boleh dijalankan secara sewenang-wenang, apalagi digunakan untuk menekan atau membungkam. Ketika kewenangan dijalankan tanpa tanggung jawab, adat kehilangan makna sosialnya dan berubah menjadi sumber luka bagi anggota keluarga, khususnya perempuan.

Sebaliknya, saudara lelaki yang menjalankan perannya secara adil dan bijaksana akan menjadi sumber perlindungan dan stabilitas bagi keluarga. Dalam kondisi demikian, saudari-saudarinya tidak merasa dikontrol, melainkan dilindungi. Penghormatan yang lahir bukan karena takut, tetapi karena adanya kepercayaan dan pemahaman terhadap peran adat yang dijalankan.

Perspektif Psikologis: Dampak Relasi Saudara Lelaki–Saudari

Dari sudut pandang psikologi keluarga, struktur peran yang jelas dan konsisten dapat berfungsi sebagai faktor protektif bagi kesehatan mental anggota keluarga. Teori sistem keluarga menjelaskan bahwa individu cenderung berfungsi lebih sehat ketika batas peran, otoritas, dan tanggung jawab dalam keluarga dipahami secara kolektif dan tidak ambigu. Dalam konteks ini, saudara lelaki yang menjalankan perannya dengan empati dan komunikasi yang baik dapat menjadi figur stabilisasi emosional bagi saudari-saudarinya.

Namun, psikologi juga menegaskan bahwa kewenangan yang dijalankan secara kaku, otoriter, dan tanpa ruang dialog berpotensi menimbulkan tekanan psikologis. Perempuan dapat mengalami perasaan tidak berdaya, kecemasan, konflik batin, bahkan trauma relasional apabila keputusan diambil tanpa mempertimbangkan kondisi emosional dan aspirasi mereka. Oleh karena itu, pelaksanaan kewenangan adat menuntut kecerdasan emosional dan kesadaran akan dampak psikologis dari setiap keputusan.

Relasi yang sehat antara saudara lelaki dan saudari-saudarinya berkontribusi pada pembentukan harga diri, rasa aman, dan kepercayaan diri perempuan. Ketika saudari merasa dihargai, didengar, dan dilindungi, struktur adat justru berfungsi sebagai sumber kekuatan psikososial, bukan sebagai sumber tekanan.

Perspektif Kesehatan Masyarakat: Keluarga sebagai Determinan Kesehatan

Dalam pendekatan kesehatan masyarakat, keluarga dipandang sebagai unit dasar yang sangat menentukan kesehatan individu dan komunitas. Relasi keluarga yang harmonis, stabil, dan saling menghargai berkontribusi langsung pada pencegahan konflik domestik, penurunan stres kronis, serta penguatan kesejahteraan mental. Dengan demikian, struktur keluarga dan relasi kuasa di dalamnya dapat dipahami sebagai bagian dari determinan sosial kesehatan.

Peran saudara lelaki sedarah dalam budaya Kemak dapat berfungsi sebagai faktor protektif apabila kewenangan tersebut digunakan untuk memastikan perlindungan, dukungan sosial, serta pengambilan keputusan yang mempertimbangkan kesejahteraan saudari-saudarinya. Dalam situasi ini, adat berfungsi sebagai mekanisme promosi dan pencegahan kesehatan. Sebaliknya, penyalahgunaan kuasa berpotensi meningkatkan kerentanan sosial dan kesehatan perempuan, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan keluarga dan komunitas secara luas.

Oleh karena itu, penguatan peran saudara lelaki yang bijaksana sejalan dengan prinsip promotif dan preventif dalam kesehatan masyarakat. Keluarga yang dikelola dengan tanggung jawab dan penghormatan timbal balik akan menjadi fondasi bagi masyarakat yang sehat secara sosial dan mental.

Pembinaan dan Pemaknaan Ulang Relasi Keluarga

Pembinaan adat perlu diarahkan secara dua arah. Di satu sisi, saudara lelaki perlu dibina untuk menyadari bahwa kewenangan adat yang ia pegang merupakan tanggung jawab moral dan sosial yang besar, bukan hak untuk mengontrol. Di sisi lain, saudari-saudarinya perlu dibina untuk memahami makna struktural dari peran saudara lelaki sedarah, sehingga penghormatan yang diberikan bersumber dari pemahaman, bukan keterpaksaan.

Menghargai saudara lelaki sedarah tidak berarti meniadakan suara perempuan atau menutup ruang dialog. Sebaliknya, penghargaan tersebut dimaknai sebagai pengakuan terhadap sistem tanggung jawab kolektif yang bertujuan menjaga keseimbangan keluarga, stabilitas emosional, dan keharmonisan sosial. Relasi yang dibangun atas dasar saling percaya memungkinkan adat berfungsi secara adaptif di tengah perubahan sosial.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peran saudara lelaki sedarah dalam keluarga Kemak bukanlah sekadar simbol kuasa patriarkal, melainkan amanah adat yang berakar pada tanggung jawab sosial sebagai penyokong Ayahanda dan penjaga kehormatan keluarga. Kewenangan tersebut menuntut kebijaksanaan, keadilan, dan integritas agar berfungsi sebagai perlindungan, bukan penindasan. Pada saat yang sama, penghargaan dari saudari-saudarinya terhadap peran saudara lelaki merupakan elemen penting dalam membangun relasi keluarga yang harmonis dan saling percaya. Dengan pemaknaan yang seimbang antara kewenangan dan tanggung jawab, adat Kemak dapat berfungsi sebagai sistem pembinaan nilai, ketahanan keluarga, dan kesejahteraan sosial lintas generasi.

Catatan Metodologis

Tulisan ini merupakan refleksi normatif yang disusun berdasarkan sintesis kajian antropologis, psikologis, dan kesehatan masyarakat. Analisis ini tidak dimaksudkan sebagai deskripsi etnografis murni, melainkan sebagai upaya memperkaya pemahaman adat dalam konteks pembinaan keluarga, relasi kekerabatan, dan kesejahteraan sosial.

Daftar Pustaka

Fox, J. J. (1980). The Flow of Life: Essays on Eastern Indonesia. Harvard University Press.
Fox, J. J. (1997). Place and Landscape in Comparative Austronesian Perspective. ANU Press.
McWilliam, A. (2002). Paths of Origin, Gates of Life: A Study of Place and Precedence in Southwest Timor. KITLV Press.
Hicks, D. (2004). Tetum Ghosts and Kin: Fertility and Gender in East Timor. Waveland Press.
Traube, E. G. (1986). Cosmology and Social Life: Ritual Exchange among the Mambai of East Timor. University of Chicago Press.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books.
Connell, R. W. (2005). Masculinities. University of California Press.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.

 

Senin, Agustus 18, 2025

Pentingkah Seorang Asesor Internasional Menguasai Bahasa Tetum di Timor-Leste?

 


By: Santana Martins

Email: sanmartinsunhas@gmail.com, WA +67077866666 

              ============================================================

Seiring dengan semakin globalnya dunia, penggunaan bahasa Inggris di dunia profesional menjadi semakin dominan. Banyak sektor di dunia ini, termasuk pendidikan, bisnis, dan pemerintahan, mengutamakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama untuk komunikasi antarnegara. Namun, dalam konteks negara berkembang seperti Timor-Leste, yang memiliki dua bahasa resmiTetun dan Portugispertanyaan besar yang perlu dijawab adalah, apakah seorang asesor internasional yang bekerja di Timor-Leste harus menguasai bahasa nasional Tetun? Atau, apakah cukup bagi mereka untuk menguasai bahasa Inggris saja untuk dapat berfungsi secara efektif dalam masyarakat dan organisasi di negara ini?

Bahasa sebagai Alat Kekuatan Sosial dan Budaya

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin dari identitas budaya dan sosial suatu negara. Timor-Leste, meskipun secara global dianggap sebagai negara kecil dan berkembang, memiliki sejarah yang kaya serta kebudayaan yang sangat dipengaruhi oleh warisan tradisi lisan. Bahasa Tetum, sebagai salah satu bahasa utama yang digunakan oleh mayoritas penduduk Timor-Leste, memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam dunia profesional, bahasa Tetun tetap menjadi bahasa komunikasi yang digunakan dalam interaksi masyarakat, meskipun bahasa Inggris semakin banyak digunakan dalam acara-acara internasional.

Menguasai bahasa nasional negara tempat seseorang bekerja bukan hanya sebuah kebutuhan praktis, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya lokal. Menggunakan bahasa lokal dalam komunikasi sehari-hari dan pekerjaan tidak hanya mempermudah interaksi, tetapi juga membuka peluang bagi para profesional internasional untuk membangun kedekatan dengan masyarakat dan memahami konteks sosial yang lebih dalam. Dalam hal ini, seorang asesor internasional yang menguasai bahasa Tetum akan memiliki keunggulan dalam memahami nilai-nilai lokal dan mengadaptasi saran atau rekomendasi mereka dengan lebih sesuai dengan kondisi setempat.

Tantangan dalam Hubungan Internasional

Namun, ada realitas yang berbeda dalam dunia internasional, di mana bahasa Inggris sering kali menjadi bahasa pengantar utama, terutama di organisasi internasional dan forum global. Hal ini menimbulkan dilema bagi seorang asesor internasional yang bekerja di Timor-Leste: apakah mereka harus menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa Tetum dalam interaksi mereka dengan masyarakat, atau cukup menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan kolega dari berbagai negara?

Memang, dalam konteks forum internasional dan organisasi besar, penggunaan bahasa Inggris tampaknya lebih praktis. Namun, masalah muncul ketika interaksi ini berlanjut ke tingkat yang lebih lokalterutama ketika berhubungan langsung dengan masyarakat Timor-Leste. Banyak kasus di mana para profesional internasional berkomunikasi dengan petugas lokal atau masyarakat yang tidak begitu fasih berbahasa Inggris, meskipun mereka mungkin bekerja di sektor pemerintahan atau lembaga internasional. Tanpa kemampuan berbahasa Tetun, komunikasi dapat menjadi terbatas dan penuh kesalahpahaman. Oleh karena itu, menguasai bahasa Tetun bukan hanya soal kebijakan komunikasi, tetapi juga tentang kemampuan untuk memahami dan merespons dengan bijaksana terhadap kebutuhan lokal.

Mengapa Penguasaan Bahasa Tetum Itu Penting

Kebutuhan untuk berkomunikasi dalam bahasa lokal sangat penting bagi efektivitas pekerjaan seorang asesor internasional, terutama dalam konteks Timor-Leste yang memiliki struktur sosial dan budaya yang khas. Para asesor internasional sering kali bekerja di bidang pembangunan, pemerintahan, dan sektor sosial, di mana komunikasi yang efektif dengan masyarakat lokal sangat dibutuhkan untuk memahami masalah yang ada serta memberikan solusi yang tepat. Dengan menguasai bahasa Tetun, seorang asesor internasional dapat berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat setempat, memfasilitasi kerja sama yang lebih baik, serta mengurangi potensi kesalahpahaman atau ketegangan yang timbul akibat hambatan bahasa.

Selain itu, menguasai bahasa Tetun juga menunjukkan komitmen seorang profesional internasional untuk berintegrasi dengan budaya lokal dan bekerja dengan penuh empati. Sebuah pendekatan yang berbasis pada pemahaman budaya dan bahasa akan menghasilkan hasil yang lebih inklusif dan mendalam dalam berbagai proyek pembangunan atau inisiatif yang dijalankan di Timor-Leste.

Sebuah Kewajiban atau Keuntungan?

Namun, satu pertanyaan yang muncul adalah, apakah ini menjadi kewajiban bagi seorang asesor internasional untuk menguasai bahasa Tetum, ataukah ini lebih merupakan keuntungan yang dapat mendukung pekerjaan mereka?

Menurut saya, ini adalah sebuah kewajiban moral dan profesional. Seorang asesor internasional yang bekerja di negara seperti Timor-Leste tidak hanya diharapkan untuk membawa keahlian mereka, tetapi juga untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya setempat. Menguasai bahasa Tetun merupakan langkah konkret yang dapat membantu mereka dalam berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan memfasilitasi pencapaian tujuan kerja mereka. Ini bukan hanya soal mendapatkan informasi atau menyampaikan instruksi, tetapi juga tentang menghargai keberagaman budaya dan menumbuhkan rasa saling pengertian.

Namun, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa mempelajari bahasa baru membutuhkan waktu dan upaya, terutama bagi para profesional internasional yang datang dengan latar belakang bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, sebagai solusi, bagi para asesor internasional wajib memahami dan bisa berbahasa Tetum.yang merupakan syarat perekrutan, Selain itu, mengintegrasikan pembelajaran bahasa dalam proses adaptasi budaya bagi tenaga kerja internasional juga dapat menjadi kebijakan yang bermanfaat.

Kesimpulan

Menguasai bahasa Tetum bagi seorang asesor internasional yang bekerja di Timor-Leste lebih dari sekadar keterampilan komunikasi; itu adalah bentuk penghargaan terhadap budaya lokal dan cara untuk memperdalam pemahaman mereka tentang masyarakat tempat mereka bekerja. Keterampilan ini memungkinkan mereka untuk bekerja lebih efektif dengan masyarakat setempat dan memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembangunan sosial dan ekonomi. Meskipun bahasa Inggris tetap penting dalam dunia internasional, menguasai bahasa nasional di negara tempat mereka bekerja merupakan langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih harmonis dan produktif.

#Final#

Kamis, Agustus 07, 2025

Kau kah itu, Jati Dirimu?

 

by Martins. S. 

Di cermin pagi yang retak,
kulihat bayangmu berjejak.
Wajahmu tersenyum samar,
namun matamu bertanya benar.

Kau kah itu, jati dirimu?
Yang berdiri tegak di tengah badai,
namun gemetar saat angin ragu datang?
Yang bersuara lantang di keramaian,
namun sunyi saat hati bicara pelan?

Kau berkata:
"Aku ini aku!"
Tapi siapa "aku" itu?

Apakah yang kau pakai hari ini
adalah topeng dari kemarin,
atau warisan luka yang kau warisi diam-diam?

Kau berjalan di jalan orang lain,
mengutip jejak tanpa tahu arah.
Padahal jati diri bukan bayang-bayang,
ia adalah cahaya yang tumbuh dari dalam.

Kau kah itu, jati dirimu?
Bukan sekadar nama atau gelar,
tapi keberanian untuk menjadi
apa adanya, seutuhnya, setulusnya.

Jika belum, jangan takut…
Sebab jati diri bukan untuk ditemukan,
melainkan untuk diperjuangka
=final=

Continue com o Esforço

By: Martins S.


Para todos vocês, onde quer que estejam,
Que seguem em frente, mesmo quando tropeçam.
A vida nem sempre é doce ou serena,
Mas cada passo é parte da cena.


Continue com o esforço, ainda que devagar,
Mesmo que ninguém venha te aplaudir ou notar.


O valor da tua luta não está no aplauso,
Mas na coragem de não dar um passo falso.
Não é preciso ser perfeito pra ter valor,
Nem ser o mais forte pra seguir com ardor.


Basta tentar, com alma e vontade,
Pois todo esforço é ato de liberdade.
Continue com o esforço — por ti, pela esperança,
Pelo sonho que vive mesmo na andança.


Há força em ti, há luz no teu olhar,
E um futuro possível que ainda vai brilhar.
Todos estamos crescendo, aprendendo a viver,
Com erros, acertos e o que mais vier.


Então segura o dia como quem segura o mundo,
Porque cada esforço é um gesto profundo.

=Fim=

Sabtu, Juli 12, 2025

Se Você Sabe

 



By Martins. S.

Se teu coração sussurra baixinho,
mas teus lábios firmes dizem que tens razão,
o que será que escondes então?

Sinceramente,
isso é coragem ou apenas um disfarce de esperança?
Ou talvez sombras de medo que preferes calar?

Como a folha que dança ao vento,
a verdade às vezes se esconde na dúvida.
Não te apresses em rejeitar o sussurro da alma,
pois, às vezes, o silêncio é a voz mais sincera.

Não menosprezes esse pequeno sussurro,
ele é como o orvalho da manhã que refresca teu passo,
mesmo que temas que ele desapareça ao nascer do sol.

Ousa fazer as pazes com a incerteza,
deixa que ela te guie à luz que nunca se apaga.
Porque um coração sincero nunca engana,
mesmo que às vezes se esconda na névoa tênue.

=fim=

Senin, Juni 23, 2025

Istoria Iran – Husi Impériu Antigu to’o Republika Islamika

 

Husi: Martins,S. 

 1. Introdusaun

Iran, ne’ebé uluk naran Persia, iha istoria naroman liu tinan 2.500. Iha tempu antiku, Persia hetan fama tanba impériu boot hanesan Achaemenid, Parthian, no Sassanid. Nasaun ne’e hetan inflénsia boot iha Arkitetura, Filosofia, Siénsia no Relijiaun Zoroastrianismo.

Iha séklu VII, Islam tama hodi transforma Iran ba estadu Islamika. Iha tinan 1501, Dinastia Safavid hamosu Iran nudar estadu Shia Islamika, ne’ebé mak até ohin loron, forma identidade nasional. Iha séklu XIX–XX, Iran submete ba influência boot hosi poténsia estranjeiru hanesan Rusia no Inglaterra, no mak sai razaun karik povu hakarak autonomia.

Iha tinan 1925, Reza Shah Pahlavi tama nudar rei, halo modernizasaun, nasionalizasaun no sekularizasaun. Nia oan, Mohammad Reza Shah, kontinua governu, maibé represivu no pró-ocidente. Luta povu hodi dereitu, liberdade no justisa sira laran, finaliza iha Revolusaun Islamika 1979, ne’ebé derruba monarkia no forma Repúblika Islamika Iran, ho lideransa espiritual husi Ayatollah Khomeini.

Sistema governu ne’e iha kombinasaun teokrasia (relijiaun) no repúblika (votu), ne’ebé atribui poder aas ba Líder Supremu. Iran kontinua enfrenta konflikto relijiozu, politika no jéopolitika. Iha tinan 2025, Iran seidauk demokrátiku hanesan sistema oeste, maibé kontínua ho influénsia boot iha Medio Oriente.

2. Objetivu

Artigu ida ne’e iha objetivu atu:

  • Hatudu istoria Iran husi beiala to’o modernidade.
  • Esplika mudansa kona-ba sistema gobernu no relijiaun.
  • Analiza konflitu jéopolitiku no ambisaun Iran.
  • Hatudu konfrontasaun Iran ho Israel no nasaun oeste.

 3. Esplikasaun Historika

3.1 Iran Antigu (550 T.K – Séklu VII)

  • Impériu Achaemenid lidera hosi Cyrus the Great, hetan fama tanba respetu ba diversidade relijiaun no administrasaun avansadu.
  • Zoroastrianismo nudar relijiaun nasional.
  • Contribuisaun iha Siénsia, Matematika, Arte no Leis.

3.2 Islamizasaun Iran (Séklu VII – Séklu XV)

  • Islam Sunni domina depois Kalifatu Arabu okupa Persia iha 651 T.K.
  • Iha tinan 1501, Dinastia Safavid hamosu Iran nudar estadu Shia Islamika Twelver.

3.3 Dinastia Qajar & Pahlavi (1796–1979)

  • Dinastia Qajar (1796–1925) fraqueza no perde toos ba Rusia.
  • Reza Shah Pahlavi (1925) – modernizasaun sekular, nasionalizasaun.
  • Mohammad Reza Shah (1941–1979): represivu no favoritismu ba oeste (EUA, UK).
  • 1953: CIA derruba PM Mossadegh tanba nia hakarak nasionaliza petroleu.

 3.4 Revolusaun Islamika (1979)

  • Lider spiritual Ayatollah Khomeini orienta protestu.
  • Shah hamenus popularidade tanba represivu, ne’ebé favorese elite.
  • Povu referendum hodi aprova Repúblika Islamika Iran.

 3.5 Estrutura Ukun Iran

Instituisaun

Deskrisaun

Líder Supremu

Lider espiritual no polítiku aas liu.

Presidente

Eletu povo, governu administrativu.

Majlis

Parlamentu legislatifu.

Guardian Council

Verifika kandidatu no lei konformi Islam.

Assembly of Experts

Elege/deskonfia Líder Supremu.

Judisiáriu Islamiku

Julga tuir Sharia.

 3.6 Lei no Demokrasaun

  • Konstituisaun 1979 (atuáliza 1989).
  • Demokrasaun iha limitasaun tanba kandidatu presiza aprova husi Guardian Council.
  • Liberdade partidu, feto, mídia no LGBT la kompativel ho lei Islam.

 3.7 Iran ho Ambisaun Global

Razaun Iran hakarak sai forte iha mundu:

  • Hakarek lidera Islam Shia iha Medio Oriente.
  • Luta kontra imperialismu – EUA, Israel, Uni-Eropa.
  • Dezenvolve teknolójia nukleár (ba energia maibé suspeitu ba arma).
  • Apoiu grupus militante hanesan Hezbollah, Hamas, no Houthi.
  • Hetan influénsia estratéjika iha merkadu petroleu – estrangula ba Arab Saudi.

3.8 Konflitu ho Israel no Aliansa Oeste

  • Iran no Israel iha relasaun hostil; Iran akuzadu suporta Hamas no Hezbollah.
  • Israel no EUA considera Iran hanesan ameasa seguransa nukleár.
  • Sanisaun internasionál limitadu ekonomi Iran (EUA, EU, ONU).
  • Iran buka aliansa ho Rusia, China, no grupu “Axis of Resistance”.

4. Resume / Konkluzaun

Iran iha istoria naroman ho kontribuisaun kultura, relijiaun no siénsia. Iha monarkia Pahlavi, Iran moderniza maibé represivu. Revolusaun 1979 transforma Iran ba estadu Islamika nudar resposta ba opresaun politika no moralidade sosial.

Sistema governu Iran ne’ebé uniku iha mundu – mistura entre teokrasia (dominiu relijiaun) no repúblika (votu povo), maibé demokrasaun iha limitasaun barak. Nia ambisaun atu sai lider iha Islam Shia no reziste dominasaun ocidental, fó tenssaun ho Israel no Aliansa oeste.

To’o 2025, Iran seidauk sai demokrátiku iha sentidu liberal, maibé kontinua ho influénsia política, ideolojia no militár iha rejiaun. Povu Iran hakarak soberania, no sistema estadu kontinua hadomi relijiaun Shia ho resistência ba opresaun estranjeiru.

 5. Referénsia Importante

  1. Axworthy, M. (2013). A History of Iran: Empire of the Mind. Basic Books.
  2. Keddie, N. R. (2006). Modern Iran: Roots and Results of Revolution. Yale University Press.
  3. Hiro, D. (2013). The Iranian Labyrinth: Journeys Through Theocratic Iran and Its Furies. Nation Books.
  4. BBC News. (2023). Iran Country Profile. https://www.bbc.com/news/world-middle-east-14542438
  5. United Nations Security Council. (2020). Sanctions on Iran. https://www.un.org/securitycouncil/sanctions/iran
  6. International Atomic Energy Agency. (2024). Iran’s Nuclear Activities Report. https://www.iaea.org/
  7. Council on Foreign Relations. (2023). Iran’s Proxy Militias and Foreign Policy. https://www.cfr.org



Jumat, Juni 13, 2025

“Engkau yang Bisa Segalanya”

 

Oleh Martins. S

Jika kau mau, kau bisa segalanya,
melangkah maju menembus batas-batas dunia.
Kau bisa ukir masa depan dengan cahaya,
kau bisa jadi nafas dalam jiwa yang percaya.

Kau bisa jadi tiang di rumah yang hampir roboh,
jadi obor di malam yang pekat dan jenuh.
Kau bisa jadi jawab bagi ragu dan resah,
membawa harapan, memberi arah.

Namun jika kau mau…
kau juga bisa jadi tembok di jalan yang sempit,
penghalang sunyi yang tak terlihat tapi menghimpit.
Kau bisa jadi racun dalam sistem yang lemah,
mengikis kepercayaan, menyebar lelah.

Kau boleh tertawa di depan panggung sorotan,
tapi tahu kau, di belakangnya ada tangisan?
Jangan kau bangga dalam gemilang pujian,
jika tapakmu menggores luka dan kehancuran.

Jadilah kau cahaya, bukan sekadar sinar,
penuntun langkah, bukan penghalang sabar.
Karena kuasa yang besar tak selalu membanggakan,
tapi cara kau memilih... itulah yang dikenang kemudian.

Racun di Ujung Lidah

 


Oleh Martins. S

Lidah tak bertulang, tapi bisa melumpuhkan,
bila tak jujur dalam berkata dan berperilaku.
Dari ujungnya mengalir bisa diam-diam,
meracuni damai, mematikan kalbu.

Ia bisa membunuh tanpa darah,
menghancurkan nama, melemahkan cinta.
Karakter yang dibangun bertahun-tahun lamanya,
hancur dalam satu kalimat tanpa makna.

Lidah bisa membenci, menusuk tanpa suara,
menghasut tanpa langkah, menyakiti tanpa cela.
Namun ia juga bisa jadi penawar,
menjadi terang jika bicara benar.

Lidah bisa membawa kita ke mana kita pergi,
menuntun langkah menuju jujur dan nurani.
Ia dapat menunjukkan jalan kebenaran,
atau menusuk diam-diam dalam kemunafikan.

Maka jaga lidahmu seperti permata,
pakailah untuk menyembuhkan, bukan melukai.
Karena kata adalah hidup yang menjelma,
bisa jadi berkat... atau bisa jadi kutukan abadi.