Jumat, Juni 13, 2025

“Engkau yang Bisa Segalanya”

 

Oleh Martins. S

Jika kau mau, kau bisa segalanya,
melangkah maju menembus batas-batas dunia.
Kau bisa ukir masa depan dengan cahaya,
kau bisa jadi nafas dalam jiwa yang percaya.

Kau bisa jadi tiang di rumah yang hampir roboh,
jadi obor di malam yang pekat dan jenuh.
Kau bisa jadi jawab bagi ragu dan resah,
membawa harapan, memberi arah.

Namun jika kau mau…
kau juga bisa jadi tembok di jalan yang sempit,
penghalang sunyi yang tak terlihat tapi menghimpit.
Kau bisa jadi racun dalam sistem yang lemah,
mengikis kepercayaan, menyebar lelah.

Kau boleh tertawa di depan panggung sorotan,
tapi tahu kau, di belakangnya ada tangisan?
Jangan kau bangga dalam gemilang pujian,
jika tapakmu menggores luka dan kehancuran.

Jadilah kau cahaya, bukan sekadar sinar,
penuntun langkah, bukan penghalang sabar.
Karena kuasa yang besar tak selalu membanggakan,
tapi cara kau memilih... itulah yang dikenang kemudian.

Racun di Ujung Lidah

 


Oleh Martins. S

Lidah tak bertulang, tapi bisa melumpuhkan,
bila tak jujur dalam berkata dan berperilaku.
Dari ujungnya mengalir bisa diam-diam,
meracuni damai, mematikan kalbu.

Ia bisa membunuh tanpa darah,
menghancurkan nama, melemahkan cinta.
Karakter yang dibangun bertahun-tahun lamanya,
hancur dalam satu kalimat tanpa makna.

Lidah bisa membenci, menusuk tanpa suara,
menghasut tanpa langkah, menyakiti tanpa cela.
Namun ia juga bisa jadi penawar,
menjadi terang jika bicara benar.

Lidah bisa membawa kita ke mana kita pergi,
menuntun langkah menuju jujur dan nurani.
Ia dapat menunjukkan jalan kebenaran,
atau menusuk diam-diam dalam kemunafikan.

Maka jaga lidahmu seperti permata,
pakailah untuk menyembuhkan, bukan melukai.
Karena kata adalah hidup yang menjelma,
bisa jadi berkat... atau bisa jadi kutukan abadi.

El Veneno en la Punta de la Lengua


Por Martines. S

La lengua no tiene huesos, pero puede paralizar,
cuando falta la verdad al actuar y al hablar.
Desde su punta fluye un veneno sutil,
que envenena la paz y rompe lo frágil.

Puede matar sin derramar sangre,
destruir un nombre, apagar el hambre.
Un carácter forjado por años de valor,
puede caer por una frase sin amor.

La lengua puede odiar, herir en silencio,
incitar sin pasos, dañar sin argumento.
Pero también puede ser medicina y consuelo,
si habla con verdad y con anhelo.

La lengua nos lleva por donde andamos,
nos guía si con sinceridad caminamos.
Puede mostrar el sendero correcto,
o matar en secreto, frío y directo.

Por eso cuida tu lengua como un tesoro,
úsala para sanar, no para causar desespero.
Porque cada palabra que deja tu voz,
puede ser bendición... o puede ser cruz.

O Veneno na Ponta da Língua

 


Por Martins. S

A língua não tem ossos, mas pode paralisar,
quando falta a verdade no agir e no falar.
De sua ponta escorre um veneno sutil,
que envenena a paz e silencia o perfil.

Ela pode matar sem derramar sangue,
destruir um nome, fazer o amor exangue.
Um caráter moldado ao longo da vida,
pode ruir por uma frase maldita.

A língua pode odiar, ferir sem som,
incitar sem passos, ferir sem tom.
Mas também pode ser bálsamo, cura,
quando fala com verdade, amor e ternura.

A língua pode guiar para onde vamos,
mostrar o caminho quando nos calamos.
Pode indicar a verdade com pureza,
ou matar em silêncio, com frieza.

Por isso, guarda tua língua como um tesouro,
que sirva para edificar, não para o desassossego.
Pois cada palavra dita tem poder profundo—
de salvar uma alma, ou despedaçar o mundo.

Quando as Palavras Ferem

 Poema de Martines. S

Cuidado ao falar, mesmo sem intenção,
pois a língua, sem osso, pode ferir o coração.
Uma frase pode ser luz que aquece,
ou lâmina fria que a alma entristece.

Há palavras que chegam como abraço,
e outras que cortam no mais profundo espaço.
Não sangra o corpo, nem mostra sinal,
mas o peito se parte num silêncio fatal.

Não moldes o som com pressa ou ira,
pois nem todo ouvido é forte quando a dor se estira.
Há feridas que o olhar nunca decifra,
mas vivem gritando onde ninguém apalpa.

Melhor calar com amor e prudência,
do que falar e ferir com imprudência.
Pois quando a palavra se torna caco no chão,
todos sangramos… em silêncio, no coração.