Jumat, Maret 07, 2025

Mentari yang Menari di Dusun Blar

 

by Martins.S

Beberapa abad yang lalu, di sebuah dusun kecil bernama Blar, di Desa Maior, hiduplah seorang gadis bernama Lurinha. Ia seperti embun pagi yang menyejukkan dedaunan, selalu membawa cahaya bagi siapa pun yang mendekat. Senyumnya tak pernah pudar, langkahnya ringan seperti angin yang membelai ladang gandum.

Namun, hidup di Dusun Blar tak seindah dongeng para leluhur. Orang-orang di sana percaya bahwa kebahagiaan harus dibayar dengan penderitaan. Mereka takut jika terlalu banyak tertawa, maka kesedihan besar akan segera datang, seperti air pasang yang menelan perahu di lautan.

Lurinha berbeda. Ia percaya bahwa hidup adalah tarian semesta, di mana setiap manusia adalah penari yang harus bergerak mengikuti irama waktu. Setiap pagi, saat fajar merekah, ia menari di ladang, membiarkan mentari menyapa wajahnya, membiarkan angin membisikkan kisah-kisah lama. Anak-anak sering mengikutinya, melompat riang di antara ilalang. Tapi tidak semua orang di dusun menyukai kebiasaannya itu.

Di sudut dusun, hiduplah seorang lelaki tua bernama Velo. Wajahnya keras seperti batu karang, matanya suram seperti langit sebelum badai. Ia pernah kehilangan keluarganya dalam satu malam petaka, dan sejak saat itu, hatinya membeku seperti tanah di musim dingin. Ia percaya, kegembiraan adalah awal dari malapetaka.

Suatu pagi, ketika Lurinha menari di tengah ladang, Velo datang dengan tatapan api.

“Mengapa kau selalu bersuka ria, Lurinha? Mengapa kau menari sementara kita semua hidup dalam penderitaan?” suaranya seperti guntur di langit senja.

Lurinha menghentikan tariannya dan menatap lelaki tua itu dengan lembut. “Tuan Velo,” katanya, “Aku sadar perjuangan ini mungkin dua arah, namun satu tujuan. Kita semua ingin bertahan, ingin hidup dengan damai. Tapi mengapa kau melampiaskan segala bentuk amarahmu padaku? Aku hanya seperti mentari yang menari, membawa secercah cahaya di antara pekatnya malam.”

Velo menggeram. “Cahaya itu tak akan bertahan, Lurinha. Malam akan selalu datang dan menelan semua sinar yang kau bawa.”

Lurinha tersenyum kecil. “Benar, malam akan datang. Tapi tidakkah kau tahu, tuan? Setiap malam yang gelap selalu berakhir dengan fajar. Tak ada malam yang tak bertemu pagi. Tak ada luka yang tak bisa sembuh. Tak ada hati yang tak bisa kembali hangat.”

Orang-orang di dusun terdiam. Kata-kata Lurinha menggema di hati mereka, seperti lonceng yang berdentang di ujung senja. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: benarkah kita harus terus hidup dalam bayang-bayang duka?

Velo menunduk. Hatinya yang lama terkunci, perlahan retak seperti es di tepi sungai yang mulai mencair. Ia melihat Lurinha, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya—kehangatan.

Sejak hari itu, mentari di Dusun Blar terasa lebih terang. Bukan karena cahayanya berubah, tapi karena hati orang-orang mulai terbuka. Lurinha tetap menari, dan perlahan-lahan, satu per satu orang mulai mengikuti langkahnya.

Sebab, seperti kata leluhur: “Jangan takut mencintai hidup, sebab meski badai datang, selalu ada pelangi yang menunggu di balik awan.”

Tamat

Dukamu Adalah Dukaku, Dukaku Adalah Dukaku


 Dukamu Adalah Dukaku, Dukaku Adalah Dukaku
By Martins.S

Dukamu adalah dukaku,
aku merasakan perih di matamu,
menyusuri jejak pedih yang kau simpan,
mendengar sunyi yang kau sembunyikan.

Namun, dukaku adalah dukaku,
tak bisa kau genggam atau kau bawa,
ia milikku, biarkan ia diam,
menemani malam tanpa janji reda.

Kita berjalan di jalan yang berbeda,
kadang beriringan, kadang berjauhan,
dukamu mungkin bisa kutemani,
tapi dukaku tetap milikku sendiri.

Jangan paksa aku membagi luka,
karena tak semua derita perlu saksi,
cukup pahami tanpa menggenggam,
cukup ada tanpa memaksa.
#final#