Senin, Desember 09, 2024
Membaca: Kunci Menembus Batas Dunia
Mulutmu, Harimaumu
(By. Martins.S)
Tua Boca é Teu Tigre
Por trás dos lábios que parecem suaves,
Há uma força que corta e não sabe.
Palavras voam sem direção,
Como espadas afiadas, sem compaixão.
De que serve o grito que ecoa forte,
Se apenas traz rancor e sorte de morte?
Que valor tem a promessa doce,
Se vira punhal que a alma fere e torce?
O tigre esconde-se atrás do falar,
Pronto a atacar sem avisar.
Uma vez solto, não há retorno,
Fere o coração e deixa o abandono.
Ah, cuida da língua como quem guarda o fogo,
Pequena, mas capaz de destruir o jogo.
Pois tua boca é teu tigre fiel,
Um amigo de luz ou um inimigo cruel.
Fala com alma, não com ira,
Pois as palavras são espelhos que a paz inspira.
Lembra-te, o tigre que sabe ser domado,
Não morderá, mas deixará o aprendizado.
Minggu, Desember 08, 2024
Bagai Membeli Kucing dalam Karung
(By Martins,S.)
Como Comprar Gato por Lebre
#final#
Kamis, November 28, 2024
Teriakan Kaum Muda yang Tertidur
Jumat, November 08, 2024
Salam Literacy
Salam Literacy(By Martins,S)
Salam untukmu, pejuang kata,
Dengan pena kita buka dunia,
Mencipta makna di setiap kalimat,
Menginspirasi jiwa yang mencari terang.
Menulis adalah jalan yang tak terhenti,
Mengubah dunia lewat setiap kata,
Bersama literasi kita bangun jembatan,
Menuju satu juta peradaban yang lebih cerdas.
Dengan setiap tulisan yang mengalir,
Kita berikan cahaya di kegelapan,
Salam untuk setiap pena yang menari,
Menulis untuk masa depan yang cerah.
Mari menulis, mari berkarya,
Membangun dunia dengan literasi,
Satu kata, satu buku, satu ide,
Menuju peradaban yang lebih baik.
@terimakasih@
Kamis, Oktober 31, 2024
Ler: A Chave para Ultrapassar os Limites do Mundo
Selasa, Oktober 29, 2024
"Suara yang Dibungkam"
By Martins,S>
Wahai pemimpin di takhta tinggi,
kau arahkan kami tanpa peduli,
suara kami lenyap di balik titah,
tunduk, diam, terpaksa pasrah.
Di ruang-ruang putih penuh perjuangan,
kami berdiri demi kehidupan,
namun kau hitung kami seperti bilangan,
tanpa rasa, tanpa penghormatan.
Kami adalah hati yang berdetak,
tangan yang mengusap luka yang retak.
Tapi di matamu kami hanya alat,
dipaksa bekerja, meski semangat patah.
Negeri ini, tempat kami berpijak,
kini memaksa kami untuk tak bersuara,
hak kami kau tekan tanpa arah,
seakan dedikasi ini tiada bermakna.
Namun, ingatlah wahai pemimpin besar,
kami bukan hanya pelayan negara,
kami adalah manusia yang berkarya,
membawa harapan bagi yang terluka.
Jangan bungkam suara keadilan,
dengarkan jeritan di balik pengabdian,
sebab jika kau terus abaikan,
kesehatan negeri ini akan kehilangan harapan.
"Final< TLS"
Senin, Oktober 28, 2024
"La Voz Silenciada"
By Martins,S.
Oh líder en tu trono tan alto,nos guías sin mostrar preocupación,nuestra voz se pierde entre tus decretos,forzada a callar, aunque inquietos.
En los espacios blancos de nuestra lucha,estamos aquí, salvando vidas a cada instante,pero para ti somos solo números contados,sin alma, sin valor en tus resultados.
Somos el corazón que late fuerte,las manos que curan el dolor y la suerte.Pero a tus ojos, somos solo herramientas,obligados a servir, aunque nuestras almas estén rotas.
Esta nación, nuestra tierra que amamos,ahora nos obliga a mantenernos en silencio.Derechos sofocados, sin dirección,como si nuestra dedicación fuera una ilusión.
Recuerda, oh gran líder de esta nación,no somos solo servidores de la patria en acción.Somos humanos, portadores de esperanza,curando heridas, dando confianza.
No silencies la voz de la justicia,escucha el grito detrás del sacrificio.Porque si nos ignoras sin dudar,la salud de este país perderá su salvación.
&Final&TLS&
Kamis, Oktober 10, 2024
"Karena Kami Dipilih"
Martins,S.
Ini karena menang, katanya,
Kesempatan di tangan, terhormat, katanya,
Biarkanlah, satu demi satu aturan hancur,
Dibengkalai, dibuang,
Selama kami menikmati, tak apa,
Asalkan kami dipilih oleh rakyat.
Kami menggunakan kekuatan,
Karena hasil election,
Kami yang dipilih, kami yang berkuasa,
Undang-undang? Biarlah jadi boneka,
Bisa diatur, bisa direview,
Agar aman dalam kendali kami.
Kesempatan datang, dan mereka diam,
Tak perlu ditanya, tak perlu dijawab,
Asalkan kami yang duduk,
Di kursi yang gemilang,
Di atas janji-janji yang dilupakan.
Suara rakyat, lantang saat dibutuhkan,
Tapi kini sunyi, tak terdengar,
Kami yang memegang kendali,
Dan aturan tunduk, merunduk,
Di bawah kekuatan kami yang kokoh.
Aturan tak lagi jadi batas,
Hanya bayang-bayang masa lalu,
Di depan, ambisi jadi raja,
Sedang rakyat? Biarlah menunggu.
Raja di tahta tak butuh pertanyaan,
Hanya patuh pada keinginan,
Undang-undang ditulis ulang,
Bukan demi rakyat, tapi demi perlindungan,
Agar kami tetap aman, tetap berkuasa.
Apakah ini yang kau pilih?
Rakyat yang terpinggir,
Aturan yang terjepit,
Kesempatan yang tak adil,
Karena kami dipilih—
Atau hanya dipaksa mengerti tanpa kata?
Kau bicara tentang keadilan?
Kami bicara tentang kuasa,
Bukan lagi suara rakyat,
Tapi suara kami yang menentukan arah.
Biar tajam sindiran ini,
Menggores batin, mengguncang nurani,
Merenunglah, wahai pembaca,
Ini bukan tentang kami,
Tapi tentang janji yang tak pernah kembali.
Begitulah caranya,
Agar kami tetap berkuasa,
Sampai semuanya tunduk,
Sampai segalanya diam.
Di balik layar, kami menyusun rencana,
Mengatur langkah, menguasai panggung,
Janji-janji masa lalu tinggal kenangan,
Yang penting kami terus berdiri,
Dan kekuatan tetap di genggaman.
Tak ada lagi ruang untuk bertanya,
Kami sudah tahu jawabannya,
Yang kau harapkan tak lagi penting,
Hanya kami yang berhak berkata,
Hanya kami yang memegang kendali.
Rakyat? Biarkan mereka menunggu,
Berharap di sela retakan janji,
Karena kami yang dipilih,
Kami yang menulis ulang sejarah ini.
Undang-undang adalah alat,
Untuk meneguhkan kuasa yang mutlak,
Kami raja, tak perlu kau pertanyakan,
Asalkan kami tetap aman,
Tak ada yang perlu dihiraukan.
Apa yang kau inginkan,
Apa yang kau pikirkan,
Tak lagi berarti di hadapan kekuasaan,
Karena kini semua berada dalam genggaman kami,
Dan kau? Biarkan mengikuti,
Jejak yang telah kami tentukan.
Merenunglah, wahai rakyat,
Ini bukan tentang kalian lagi,
Ini tentang bagaimana kami bertahan,
Dan menjaga tahta ini tetap tinggi,
Karena kami dipilih,
Dan kami takkan melepaskan kendali ini.
Kami dipilih olehmu, wahai rakyat,
Tapi kini, kami memilih nasibmu.
Undang-undang? Kami yang tulis.
Aturan? Kami yang ubah.
Karena kekuasaan ada di tangan kami,
Dan kalian?
Cukup menunggu di bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati.
Selamat datang di kerajaan kami,
Di mana aturan tunduk,
Dan keadilan hanya kata yang hilang di udara.
Karena kami dipilih—
Untuk berkuasa.
Rabu, Oktober 09, 2024
Lentera Tanpa Sinar

By; Martins.S.
Senin, September 30, 2024
"Di Balik Senyap Dendam"
By: Martins.S.
Engkau, yang di kejauhan sana,
Tatapan matamu tajam bak pisau sembilu,
Mengabaikan arah angin yang berbisik lembut,
Menantang luka-luka sunyi yang bersemayam,
Menggendong dendam yang tak pernah padam,
Menopang harapan yang hampir sirna, demi esok yang kau impikan.
Kau peluk angan tentang masa depan yang indah,
Tanah subur yang menanti benih untuk bertunas,
Sayur mayur yang tumbuh menjulang di bawah mentari ramah,
Kau gendong harapan untuk anak cucu tercinta,
Namun di balik indahnya impian itu, tersembunyi amarah yang menyala.
Kau bak perahu di samudra murka,
Tak tahu bagaimana aku berlayar di bawah badai,
Menggapai masa depan yang gemilang dan penuh cahaya,
Kudaki bukit harapan dengan nafas yang hampir putus,
Namun kau, dengan lembut, menutup tirai semua jalanku,
Dengan senyummu yang tenang, menutup pintu-pintu harapan.
Marahmu tak pernah kau nyatakan,
Namun setiap langkahku, kau jerat dengan seutas tali tak terlihat,
Aku berusaha, dengan segala tenaga,
Demi kehidupan yang lebih indah dan sempurna,
Namun kau, seperti angin malam yang dingin,
Menyapu harapanku tanpa suara, meninggalkan sunyi yang tak terhingga.
&final&
Cuitan Nurani di Padang Gurun
By. Martins. S.
*Final*
Jumat, September 13, 2024
Kebenaran di Tengah Kepalsuan
Martins,S
@Final@


.jpeg)




