Senin, Desember 09, 2024

Membaca: Kunci Menembus Batas Dunia


(By. Martins S.)

Jangan biarkan pikiranmu terkungkung,
Dalam kebisuan yang membelenggu.
Buka mata, buka hati, buka jiwa,
Dengan membaca, dunia akan terbuka.

Setiap kata adalah jendela dunia,
Setiap buku adalah pintu pengetahuan.
Bacalah, untuk melihat lebih jauh,
Melampaui batas yang terbentang di depan.

Budayakan dirimu dengan membaca,
Seperti akar yang menancap dalam tanah.
Ilmu yang kau dapatkan akan tumbuh,
Menjadi pohon yang kuat, tak mudah rapuh.

Dengan membaca, kau membangun dunia baru,
Setiap halaman adalah langkah menuju pencerahan.
Jangan pernah puas dengan sedikit,
Teruslah mencari, teruslah menggali, teruslah membaca.

Di setiap kata tersembunyi kekuatan,
Di setiap baris tersembunyi kebijaksanaan.
Membaca adalah senjata bagi mereka yang ingin bertumbuh,
Membaca adalah kunci bagi mereka yang ingin maju.

Budayakan dirimu dengan membaca,
Karena dengan itu, kau akan temukan dirimu,
Menjadi pribadi yang lebih bijak,
Menjadi pemimpin yang cerdas dan tak tergoyahkan.

Mari, kaum muda, baca dan teruslah membaca,
Karena di dalam buku, kau akan menemukan dunia.
Buku adalah sahabat terbaik,
Yang akan membimbingmu ke puncak, tanpa batas.

Dengan membaca, kita menembus segala batas,
Menggapai impian yang selama ini terhalang.
Buku adalah kunci yang tak pernah rusak,
Membukakan pintu dunia yang tak pernah padam.

Mulutmu, Harimaumu


(By. Martins.S) 

Di balik bibir yang tampak lembut,
Ada kekuatan yang bisa menusuk.
Kata-kata meluncur tanpa kendali,
Bagai pedang tajam, tak mengenal henti.

Apa arti suara yang menggelegar,
Jika hanya melahirkan dendam yang membakar?
Apa guna janji yang terucap manis,
Jika akhirnya menjadi belati yang sinis?

Harimau itu bersembunyi di balik kata,
Siap menerkam tanpa pernah menyapa.
Sekali terlepas, tak bisa kembali,
Melukai jiwa, meninggalkan sunyi.

Oh, jagalah lidah seperti menjaga bara,
Kecil namun mampu menghancurkan dunia.
Karena mulutmu adalah harimaumu,
Sahabat yang setia, atau musuh yang kejam.

Bicaralah dengan hati, bukan amarah,
Sebab kata adalah cermin dari jiwa yang indah.
Dan ingatlah, harimau yang dijinakkan,
Takkan melukai, hanya memberikan pelajaran.


Tua Boca é Teu Tigre

Por trás dos lábios que parecem suaves,
Há uma força que corta e não sabe.
Palavras voam sem direção,
Como espadas afiadas, sem compaixão.

De que serve o grito que ecoa forte,
Se apenas traz rancor e sorte de morte?
Que valor tem a promessa doce,
Se vira punhal que a alma fere e torce?

O tigre esconde-se atrás do falar,
Pronto a atacar sem avisar.
Uma vez solto, não há retorno,
Fere o coração e deixa o abandono.

Ah, cuida da língua como quem guarda o fogo,
Pequena, mas capaz de destruir o jogo.
Pois tua boca é teu tigre fiel,
Um amigo de luz ou um inimigo cruel.

Fala com alma, não com ira,
Pois as palavras são espelhos que a paz inspira.
Lembra-te, o tigre que sabe ser domado,
Não morderá, mas deixará o aprendizado.

Minggu, Desember 08, 2024

Bagai Membeli Kucing dalam Karung

 




(By Martins,S.)

Tak terlihat wajah, hanya suara terngiang,
Dipilih tanpa saring, diangkat tanpa pandang.
Kucing dalam karung, misteri terselubung,
Hilang logika, hanya nasib menanggung.

Apa yang diharap dari ruang tak terang,
Kala isi karung bisa jadi duri tajam?
Bukan cahaya yang menerangi jalan,
Melainkan kabut yang membingungkan panduan.

Mungkin ia tangkas, mungkin ia lemah,
Namun apa yang pasti, tiada yang tahu arah.
Mengapa memilih tanpa timbangan,
Seperti menggambar tanpa tinta di tangan?

Oh, kiranya hikmah tak sekadar janji,
Pahami setiap isi, jangan asal memberi.
Sebab kucing dalam karung takkan bicara,
Hingga waktu membuka segalanya.

 

Como Comprar Gato por Lebre

Não se vê o rosto, apenas o som ecoa,
Escolhido às cegas, sem medir quem voa.
Gato no saco, mistério a espreitar,
A lógica perdida, só o destino a carregar.

O que esperar de um caminho sem luz,
Quando o saco pode esconder espinhos nus?
Não é a clareza que guia a decisão,
Mas a névoa que confunde a razão.

Talvez seja ágil, talvez incapaz,
Mas a verdade ninguém jamais traz.
Por que escolher sem pesar o certo,
Como desenhar sem tinta por perto?

Ah, que a sabedoria seja mais que promessa,
Entenda o que guarda, não ceda à pressa.
Pois o gato no saco não revelará,
Até que o tempo toda a verdade mostrará.

#final#


Kamis, November 28, 2024

Teriakan Kaum Muda yang Tertidur


(By Martins.S)

Wahai kaum muda, lentera bangsa,
Api yang harusnya menyala, kini padam tertahan.
Jangan biarkan negeri ini terjatuh,
Dari matahari yang bersinar terang, menjadi bulan yang pudar.

Saat matahari terbit, dunia menyeru,
Namun kau masih terlelap, dalam dunia angan.
Saat bulan menerangi malam yang sunyi,
Kau terjaga tanpa arah, membuang waktu yang sejati.

Bagai burung tanpa sarang, terombang-ambing,
Mengandalkan usaha orang tua yang makin lemah.
Ingatlah, ketika akar yang kokoh itu hilang,
Yang tersisa hanyalah penyesalan yang menggigit jari.

Bangkitlah, pewaris harapan yang tersembunyi,
Seperti pohon yang kuat, menembus tanah dengan keyakinan.
Ketika matahari terik, jadilah petani yang bekerja,
Saat bulan datang, jadilah perencana yang bijak.

Hidup ini adalah roda yang terus berputar,
Siapa yang diam, akan tertinggal di bawah.
Jangan biarkan waktu jadi musuh,
Raih kesempatan yang datang, jangan pernah ragu.

Bekerjalah keras, seperti padi yang merunduk,
Berjuanglah, seperti bambu yang tak patah diterpa angin.
Jadilah penerus yang membawa bangsa ini bersinar,
Bukan sekadar cerita, tetapi kemenangan yang nyata.

Wahai kaum muda, jadilah matahari dan bulan yang bersatu,
Jaga mimpi, capailah tujuan yang dituju.
Karena masa depan bukanlah untuk ditunggu,
Tapi untuk diraih, dengan usaha dan keberanian yang mengarah pada kemenangan.

Bumi Lorosae, tanah yang kaya dan berdaulat,
Wahai kaum muda, jangan pernah lupakan jejak yang kau torehkan.
Seribu tahun lagi, teruslah berkiprah dan bercahaya,
Menjadi penerus bangsa yang abadi, sepanjang masa.

Lorosae, tanah yang kukuh dan penuh harapan,
Dengan tanganmu, maju terus, tanpa ragu, tanpa henti,
Karena kalian adalah kekuatan yang tak tergoyahkan,
Menjadi cahaya bangsa, seribu tahun yang akan datang.

Jumat, November 08, 2024

Salam Literacy

 



Salam Literacy(By Martins,S)

Salam untukmu, pejuang kata,

Dengan pena kita buka dunia,

Mencipta makna di setiap kalimat,

Menginspirasi jiwa yang mencari terang.

Menulis adalah jalan yang tak terhenti,

Mengubah dunia lewat setiap kata,

Bersama literasi kita bangun jembatan,

Menuju satu juta peradaban yang lebih cerdas.

Dengan setiap tulisan yang mengalir,

Kita berikan cahaya di kegelapan,

Salam untuk setiap pena yang menari,

Menulis untuk masa depan yang cerah.

Mari menulis, mari berkarya,

Membangun dunia dengan literasi,

Satu kata, satu buku, satu ide,

Menuju peradaban yang lebih baik.

@terimakasih@

Kamis, Oktober 31, 2024

Ler: A Chave para Ultrapassar os Limites do Mundo

 

Por Martins S.

Não permita que sua mente fique aprisionada,
Na quietude que a limita.
Abra os olhos, abra o coração, abra a alma,
Pois ao ler, o mundo se revela.

Cada palavra é uma janela para o mundo,
Cada livro é uma porta para o conhecimento.
Leia, para ver além,
Ultrapassando os limites que se estendem à sua frente.

Cultive em si o hábito da leitura,
Como uma raiz que se firma no solo.
O saber que você adquire vai crescer,
Transformando-se em uma árvore forte, difícil de quebrar.

Ao ler, você constrói um novo mundo,
Cada página é um passo rumo à iluminação.
Nunca se contente com o pouco,
Busque sempre mais, procure, explore, leia.

Em cada palavra há poder oculto,
Em cada linha há sabedoria.
Ler é a arma para quem quer crescer,
Ler é a chave para quem deseja avançar.

Cultive em si o hábito da leitura,
Pois assim você descobrirá a si mesmo,
Tornando-se uma pessoa mais sábia,
E um líder inteligente e imbatível.

Jovens, leiam e sigam lendo,
Pois dentro dos livros, vocês encontrarão o mundo.
O livro é o melhor amigo,
Que os guiará até o topo, sem limites.

Ao ler, ultrapassamos todos os limites,
Alcançamos os sonhos que antes estavam distantes.
O livro é uma chave que nunca se desgasta,
Abrindo portas para um mundo que nunca se apaga.

 @final@

Selasa, Oktober 29, 2024

"Suara yang Dibungkam"

 

 By Martins,S> 

Wahai pemimpin di takhta tinggi,
kau arahkan kami tanpa peduli,
suara kami lenyap di balik titah,
tunduk, diam, terpaksa pasrah.

Di ruang-ruang putih penuh perjuangan,
kami berdiri demi kehidupan,
namun kau hitung kami seperti bilangan,
tanpa rasa, tanpa penghormatan.

Kami adalah hati yang berdetak,
tangan yang mengusap luka yang retak.
Tapi di matamu kami hanya alat,
dipaksa bekerja, meski semangat patah.

Negeri ini, tempat kami berpijak,
kini memaksa kami untuk tak bersuara,
hak kami kau tekan tanpa arah,
seakan dedikasi ini tiada bermakna.

Namun, ingatlah wahai pemimpin besar,
kami bukan hanya pelayan negara,
kami adalah manusia yang berkarya,
membawa harapan bagi yang terluka.

Jangan bungkam suara keadilan,
dengarkan jeritan di balik pengabdian,
sebab jika kau terus abaikan,
kesehatan negeri ini akan kehilangan harapan.

    "Final< TLS" 

Senin, Oktober 28, 2024

"La Voz Silenciada"

 

           

 By Martins,S. 

Oh líder en tu trono tan alto,
nos guías sin mostrar preocupación,
nuestra voz se pierde entre tus decretos,
forzada a callar, aunque inquietos.

En los espacios blancos de nuestra lucha,
estamos aquí, salvando vidas a cada instante,
pero para ti somos solo números contados,
sin alma, sin valor en tus resultados.

Somos el corazón que late fuerte,
las manos que curan el dolor y la suerte.
Pero a tus ojos, somos solo herramientas,
obligados a servir, aunque nuestras almas estén rotas.

Esta nación, nuestra tierra que amamos,
ahora nos obliga a mantenernos en silencio.
Derechos sofocados, sin dirección,
como si nuestra dedicación fuera una ilusión.

Recuerda, oh gran líder de esta nación,
no somos solo servidores de la patria en acción.
Somos humanos, portadores de esperanza,
curando heridas, dando confianza.

No silencies la voz de la justicia,
escucha el grito detrás del sacrificio.
Porque si nos ignoras sin dudar,
la salud de este país perderá su salvación.

&Final&TLS&

 

 

Kamis, Oktober 10, 2024

"Karena Kami Dipilih"

 

Martins,S.

Ini karena menang, katanya,
Kesempatan di tangan, terhormat, katanya,
Biarkanlah, satu demi satu aturan hancur,
Dibengkalai, dibuang,
Selama kami menikmati, tak apa,
Asalkan kami dipilih oleh rakyat.

Kami menggunakan kekuatan,
Karena hasil election,
Kami yang dipilih, kami yang berkuasa,
Undang-undang? Biarlah jadi boneka,
Bisa diatur, bisa direview,
Agar aman dalam kendali kami.

Kesempatan datang, dan mereka diam,
Tak perlu ditanya, tak perlu dijawab,
Asalkan kami yang duduk,
Di kursi yang gemilang,
Di atas janji-janji yang dilupakan.

Suara rakyat, lantang saat dibutuhkan,
Tapi kini sunyi, tak terdengar,
Kami yang memegang kendali,
Dan aturan tunduk, merunduk,
Di bawah kekuatan kami yang kokoh.

Aturan tak lagi jadi batas,
Hanya bayang-bayang masa lalu,
Di depan, ambisi jadi raja,
Sedang rakyat? Biarlah menunggu.

Raja di tahta tak butuh pertanyaan,
Hanya patuh pada keinginan,
Undang-undang ditulis ulang,
Bukan demi rakyat, tapi demi perlindungan,
Agar kami tetap aman, tetap berkuasa.

Apakah ini yang kau pilih?
Rakyat yang terpinggir,
Aturan yang terjepit,
Kesempatan yang tak adil,
Karena kami dipilih—
Atau hanya dipaksa mengerti tanpa kata?

Kau bicara tentang keadilan?
Kami bicara tentang kuasa,
Bukan lagi suara rakyat,
Tapi suara kami yang menentukan arah.

Biar tajam sindiran ini,
Menggores batin, mengguncang nurani,
Merenunglah, wahai pembaca,
Ini bukan tentang kami,
Tapi tentang janji yang tak pernah kembali.

Begitulah caranya,
Agar kami tetap berkuasa,
Sampai semuanya tunduk,
Sampai segalanya diam.

Di balik layar, kami menyusun rencana,
Mengatur langkah, menguasai panggung,
Janji-janji masa lalu tinggal kenangan,
Yang penting kami terus berdiri,
Dan kekuatan tetap di genggaman.

Tak ada lagi ruang untuk bertanya,
Kami sudah tahu jawabannya,
Yang kau harapkan tak lagi penting,
Hanya kami yang berhak berkata,
Hanya kami yang memegang kendali.

Rakyat? Biarkan mereka menunggu,
Berharap di sela retakan janji,
Karena kami yang dipilih,
Kami yang menulis ulang sejarah ini.

Undang-undang adalah alat,
Untuk meneguhkan kuasa yang mutlak,
Kami raja, tak perlu kau pertanyakan,
Asalkan kami tetap aman,
Tak ada yang perlu dihiraukan.

Apa yang kau inginkan,
Apa yang kau pikirkan,
Tak lagi berarti di hadapan kekuasaan,
Karena kini semua berada dalam genggaman kami,
Dan kau? Biarkan mengikuti,
Jejak yang telah kami tentukan.

Merenunglah, wahai rakyat,
Ini bukan tentang kalian lagi,
Ini tentang bagaimana kami bertahan,
Dan menjaga tahta ini tetap tinggi,
Karena kami dipilih,
Dan kami takkan melepaskan kendali ini.

Kami dipilih olehmu, wahai rakyat,
Tapi kini, kami memilih nasibmu.
Undang-undang? Kami yang tulis.
Aturan? Kami yang ubah.
Karena kekuasaan ada di tangan kami,
Dan kalian?
Cukup menunggu di bayang-bayang janji yang tak pernah ditepati.

Selamat datang di kerajaan kami,
Di mana aturan tunduk,
Dan keadilan hanya kata yang hilang di udara.
Karena kami dipilih—
Untuk berkuasa.

Rabu, Oktober 09, 2024

Lentera Tanpa Sinar

By; Martins.S.

Di atas kursi muda kau berdiri gagah,
Namun bijakmu hilang di sudut lengah,
Mentari pengalaman di pundak yang renta,
Tapi kau lupakan cahayanya, entah mengapa.

Berbaju kuasa, namun rasa terselip,
Kau goreskan dendam di dalam senyap,
Dalam tawa halus tersirat kepalsuan,
Politikmu menari, tak kenal tujuan.

Langkahmu berat, dibebani ego,
Di mata yang lebih tua, kau lupa bersua,
Ada kearifan yang tak terucap kata,
Namun kau, oh pemuda, tak peduli maknanya.

Di mana sinar kebijaksanaan itu?
Mengapa kau tutup telingamu begitu?
Yang seharusnya memimpin dengan hati terang,
Malah kau buat bayang hitam di siang.

Lentera di tanganmu, namun sinar tak tampak,
Jalani kekuasaan dengan dendam yang pekat,
Tidakkah kau sadar, pemimpin sejati,
Adalah yang merangkul, bukan menebar iri?

Sindiran dalam diam, tapi terasa dalam
Tersurat halus, namun maksud tak hilang,
Semoga kau dengar, walau tak diucap,
Kepemimpinan sejati tak hidup dalam senyap.

Senin, September 30, 2024

"Di Balik Senyap Dendam"

By: Martins.S.

Engkau, yang di kejauhan sana,
Tatapan matamu tajam bak pisau sembilu,
Mengabaikan arah angin yang berbisik lembut,
Menantang luka-luka sunyi yang bersemayam,
Menggendong dendam yang tak pernah padam,
Menopang harapan yang hampir sirna, demi esok yang kau impikan.

Kau peluk angan tentang masa depan yang indah,
Tanah subur yang menanti benih untuk bertunas,
Sayur mayur yang tumbuh menjulang di bawah mentari ramah,
Kau gendong harapan untuk anak cucu tercinta,
Namun di balik indahnya impian itu, tersembunyi amarah yang menyala.

Kau bak perahu di samudra murka,
Tak tahu bagaimana aku berlayar di bawah badai,
Menggapai masa depan yang gemilang dan penuh cahaya,
Kudaki bukit harapan dengan nafas yang hampir putus,
Namun kau, dengan lembut, menutup tirai semua jalanku,
Dengan senyummu yang tenang, menutup pintu-pintu harapan.

Marahmu tak pernah kau nyatakan,
Namun setiap langkahku, kau jerat dengan seutas tali tak terlihat,
Aku berusaha, dengan segala tenaga,
Demi kehidupan yang lebih indah dan sempurna,
Namun kau, seperti angin malam yang dingin,
Menyapu harapanku tanpa suara, meninggalkan sunyi yang tak terhingga.

&final&

Cuitan Nurani di Padang Gurun

 




By. Martins. S.

Cuitan hati bak api dendam yang membara,
Dari seorang Pimpinan di lembah tanpa jiwa,
Di padang gurun nan tandus penuh luka,
Berbagai cara dia rancang dalam diam,
Agar puas melihat stafnya tenggelam.

Walau karyawannya berkeringat lelah,
Memikul beban tugas sang Raja dengan sepenuh hati,
Berjuang mencegah kanker menjarah,
Namun Pimpinan, hatimu tetap sepi.

Ingatlah, wahai pemimpin di singgasana,
Kau dan aku hanyalah roda yang terus berputar,
Hari ini kau di atas, esok mungkin terjatuh jua,
Sebab keadilan waktu tak pernah pudar.

Cuitan ini bukan hanya sekadar kata,
Tapi seruan dari nurani yang terluka.
Seandainya kau mampu melihat lebih dalam,
Di sana, hanya ada kepedihan yang diam.

*Final*

Jumat, September 13, 2024

Kebenaran di Tengah Kepalsuan



Martins,S

Di atas meja-meja birokrasi yang gelap,
Lembar-lembar administrasi penuh kesalahan,
Ada tangan-tangan licik menuliskan petaka,
Menutup kebenaran dengan tirai dusta dan kebohongan.

Namun di tengah dusta yang merajalela tanpa malu,
Kebenaran mengintip dalam senyap yang merindu,
Suara jujur yang berani menantang keburukan,
Meskipun kritikan itu berbalik menjadi pedang.

Mengapa takut pada kritik yang benar?
Apakah karena nurani telah pudar?
Mengapa singkirkan mereka yang jujur?
Apakah takut kursimu tak lagi tegak berdiri?

Di balik keputusan mutasi yang keji,
Ada dendam yang disembunyikan dalam diam,
Kau pikir bisa bungkamkan suara hati,
Namun kebenaran akan kembali menggema, menuntut keadilan.

Dunia berputar tak selamanya setia,
Yang benar akan tetap bersinar nyata,
Meski angin fitnah datang menggoda,
Kebenaran akan tetap berdiri tanpa cela.

Etika publik kau injak-injak dengan hina,
Kau pikir sistem ini milikmu semata,
Tapi ingatlah, dustamu hanya sementara,
Kebenaran akan terus mencari jalannya.

Jadi teruskanlah menari di atas panggung tipu daya,
Namun satu hal yang pasti:
Kebenaran takkan pernah mati,
Ia akan bangkit, meski harus melewati jalan sunyi.

@Final@