Jumat, Juni 13, 2025

O Veneno na Ponta da Língua

 


Por Martins. S

A língua não tem ossos, mas pode paralisar,
quando falta a verdade no agir e no falar.
De sua ponta escorre um veneno sutil,
que envenena a paz e silencia o perfil.

Ela pode matar sem derramar sangue,
destruir um nome, fazer o amor exangue.
Um caráter moldado ao longo da vida,
pode ruir por uma frase maldita.

A língua pode odiar, ferir sem som,
incitar sem passos, ferir sem tom.
Mas também pode ser bálsamo, cura,
quando fala com verdade, amor e ternura.

A língua pode guiar para onde vamos,
mostrar o caminho quando nos calamos.
Pode indicar a verdade com pureza,
ou matar em silêncio, com frieza.

Por isso, guarda tua língua como um tesouro,
que sirva para edificar, não para o desassossego.
Pois cada palavra dita tem poder profundo—
de salvar uma alma, ou despedaçar o mundo.

Quando as Palavras Ferem

 Poema de Martines. S

Cuidado ao falar, mesmo sem intenção,
pois a língua, sem osso, pode ferir o coração.
Uma frase pode ser luz que aquece,
ou lâmina fria que a alma entristece.

Há palavras que chegam como abraço,
e outras que cortam no mais profundo espaço.
Não sangra o corpo, nem mostra sinal,
mas o peito se parte num silêncio fatal.

Não moldes o som com pressa ou ira,
pois nem todo ouvido é forte quando a dor se estira.
Há feridas que o olhar nunca decifra,
mas vivem gritando onde ninguém apalpa.

Melhor calar com amor e prudência,
do que falar e ferir com imprudência.
Pois quando a palavra se torna caco no chão,
todos sangramos… em silêncio, no coração.

Kamis, Juni 12, 2025

Quatro Dedos Para Mim

 

Poema de Martins. S

Fico em pé sobre as feridas dos outros,
apontando com um dedo, entre silêncios e gritos frouxos.
Achei que eu soubesse o melhor caminho,
mas meu coração se perdeu no próprio desalinho.

Apontei teu rosto com falsa razão,
sem ver as rachaduras na minha própria mão.
Um dedo te acusa com arrogância e dor,
mas quatro se voltam a mim — sem favor.

É fácil julgar por fora a aparência,
sem perceber a alma cheia de carência.
Te condeno por medo do que vejo em mim,
meu reflexo no espelho é o real fim.

Agora me calo, com vergonha no olhar,
tentando entender antes de apontar.
Pois os quatro dedos voltados a mim,
são mestres duros — mas justos até o fim.
%FIM%

Selasa, Mei 20, 2025

Teruslah Berusaha

 

by Matins.S

Untuk siapa pun kamu, di mana pun berada,
Yang tengah berjalan, walau lelah melanda.
Hidup tak selalu mudah, tak selalu terang,
Tapi langkah kecil pun, punya daya yang gemilang.


Teruslah berusaha, meski perlahan,
Meski tak ada sorak atau tepuk tangan.
Setiap detik yang kau jalani dengan niat,
Adalah benih harapan yang kelak mendekat.


Tak perlu sempurna untuk bermakna,
Tak perlu kuat untuk terus melangkah.
Yang penting: kau coba, kau hadapi,
Dengan hati yang tak pernah benar-benar pergi.


Teruslah berusaha — bukan demi pujian,
Tapi karena di dalam dirimu, ada tujuan.
Ada cinta, ada harapan yang kau genggam,
Ada mimpi yang tumbuh dari keyakinan dalam.


Kita semua sedang belajar, sedang bertumbuh,
Dengan luka, tawa, dan waktu yang penuh.
Maka genggamlah hari ini seperti cahaya,
Karena setiap usaha, sekecil apa pun, tetap mulia.

Selasa, April 29, 2025

Cinta Tidak Menunggu Pemberitahuan

 

 Puisi reflektif oleh Santana Martins, terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus

Cinta bukan kontrak yang bersyarat,
bukan janji yang tergantung pada musim hati,
dan bukan perasaan yang menguap saat ujian datang.

Cinta, kata Paus, adalah keputusan yang kudus—
ia tidak berkata, “Aku di sini... sampai aku merasa cukup.”
Cinta sejati tidak mencintai sementara,
ia mencintai sepenuhnya.

Dalam kasih yang ilahi,
tiada ruang untuk frasa “hingga pemberitahuan selanjutnya.”
Karena kasih yang sejati tidak hidup di dalam ketakutan,
tetapi di dalam keberanian untuk menetap.

Cinta adalah perjanjian,
bukan pilihan sesaat.
Ia mengakar di tanah pengorbanan,
dan bertumbuh di udara pengampunan.

Ia bertahan bukan karena mudah,
tetapi karena ia tahu:
yang abadi itu bukan milik yang kuat,
tetapi milik yang setia.

Tuhan sendiri telah mengajarkan kita,
melalui salib dan tubuh yang terluka:
bahwa cinta yang sejati,
tidak mencari alasan untuk pergi—
tetapi selalu mencari jalan untuk tinggal.

Maka jika engkau mencinta,
jangan bawa keraguan di hatimu,
bawalah niat yang suci,
dan keberanian untuk berkata:
“Aku di sini. Selamanya.”

Catatan Konteks Puisi:
Puisi ini ditulis oleh Santana Martins, terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus yang pernah disampaikan secara mendalam dalam refleksi beliau mengenai makna sejati cinta. Dalam pernyataan yang juga dipublikasikan oleh The New York Times, Paus berkata:
“Love wants to be permanent; ‘until further notice’ isn’t love.”
(“Cinta ingin kekal; ‘hingga pemberitahuan selanjutnya’ bukanlah cinta.”)

Pesan ini mengingatkan kita bahwa cinta, baik dalam hubungan manusia maupun dalam relasi dengan Tuhan, adalah keputusan yang bersifat kekal, bukan sekadar perasaan sementara. Puisi ini lahir sebagai bentuk renungan dan jawaban dari hati yang merindukan kasih yang tinggal, bukan pergi.

 

Regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025

 https://id.tatoli.tl/2025/04/28/regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025/ 

Sabtu, April 05, 2025

"04 April 2021, Air Membawa Luka"

 


"04 April 2021, Air Membawa Luka"

Dili, Timor-Leste

Di pagi buta yang tak menjanjikan terang,
Langit menangis deras tanpa jeda,
Dili, kota kecil penuh kenangan,
Tenggelam dalam sunyi yang membawa derita.

Air bukan sekadar genangan,
Ia datang seperti kemarahan yang tak tertahan,
Menyeret ranjang, mimpi, dan doa-doa,
Meninggalkan jejak lumpur di dada manusia.

Tangan kecil mencari ibu,
Tangis tenggelam di arus yang tak tahu arah,
Nama-nama hilang tanpa pamit,
Tertulis hanya di hati yang basah.

Tiang listrik tumbang seperti harapan,
Jalanan pecah seperti nasib yang dipatahkan,
Rumah hanyut—bukan oleh waktu,
Tapi oleh air yang tak pernah tahu belas kasihan.

Dan kota pun seolah lupa,
04 April menjadi kabut di arsip negara,
Padahal di sanalah nyawa-nyawa
Pernah berjuang melawan sia-sia.

Namun kami ingat, kami simpan,
Dalam puisi, doa, dan batu nisan,
Agar generasi mendatang tak hanya membangun tembok,
Tapi juga ingatan—dan kesiapsiagaan yang kokoh.

04 April, luka kami bukan untuk dikubur,
Tapi untuk dikenang sebagai pelajaran yang jujur.
Bukan untuk dendam,
Tapi agar air tak lagi membawa karam.

Kamis, April 03, 2025

O País das Promessas

By Martins, S.

No palco, falam com voz segura,
Promessas sobem como a altura.
Dizem que o povo terá fartura,
Mas a mesa ainda está nua.

Prédios altos, luxo sem fim,
Enquanto estradas caem, assim.
Escolas sem teto, livros rasgados,
Sonhos de jovens, todos quebrados.

Carros de luxo cruzam velozes,
Mas ambulâncias? Sempre precoces.
Nos gabinetes riem à vontade,
Enquanto mães choram na cidade.

Dizem que o país é de todos nós,
Mas só alguns têm voz.
O povo fala, o vento leva,
Só escutam quando a eleição se eleva.

Oh, Timor-Leste, minha terra querida,
Quando terás liderança digna?
Não só palavras, nem só discurso,
Mas trabalho real, sem retrocesso.

#final#

Selasa, Maret 25, 2025

Na Limiar da Porta


 Na Limiar da Porta

By Martins,S

Vejo o fim à beira da porta,
Uma luz que brilha, mas se apaga,
O futuro que já não brilha mais,
Bate contra uma alma frágil, cheia de incertezas.

O céu cinza envolve os passos,
Sonhos que se apagam na escuridão,
A luta que nunca se termina,
Torna-se uma história sombria, sem fim.

A esperança cada vez mais distante,
Como uma sombra que se perde,
Mas por trás dos escombros da alma,
Há uma chama que insiste em não se apagar.

Mesmo que o caminho seja de espinhos,
Mesmo que o mundo continue a tremer,
Cada passo, mesmo vacilante,
Ainda carrega uma vontade que não se perde.

Sabtu, Maret 08, 2025

Women, the Light of the World


 Women, the Light of the World

By Martins.S.

Women, you are the light of the universe,
Born from struggle, nurtured with love.
Your steps are not just footprints on the earth,
But echoes that shape history’s path.
You plant hope in barren lands,
Build dreams despite the storms.
Fate never bends your will,
For your heart is forged in steel.

From your hands, the world learns resilience,
From your love, boundless strength is born.
From your courage that never fades,
From your loyalty that never sways.
Today is more than just a celebration,
It is a voice that must be heard.
For women are not shadows behind,
But the light that brightens the world.

Women, the Architects of Change
You are the architects of hope and change,
With hands that heal and hearts that rearrange.
In your eyes, the fire of endless possibilities,
You rise, defying every boundary, every adversity.

You are the warriors in silence, the voices in the night,
Guiding us with wisdom, showing us the light.
Your stories are the backbone of every nation,
Your dreams are the seeds of transformation.

Today, we honor not just your grace,
But the power that shines through your embrace.
For women, you are not just a part of the tale,
You are the heart that makes humanity prevail.

Happy International Women's Day! ✨💜

Jumat, Maret 07, 2025

Mentari yang Menari di Dusun Blar

 

by Martins.S

Beberapa abad yang lalu, di sebuah dusun kecil bernama Blar, di Desa Maior, hiduplah seorang gadis bernama Lurinha. Ia seperti embun pagi yang menyejukkan dedaunan, selalu membawa cahaya bagi siapa pun yang mendekat. Senyumnya tak pernah pudar, langkahnya ringan seperti angin yang membelai ladang gandum.

Namun, hidup di Dusun Blar tak seindah dongeng para leluhur. Orang-orang di sana percaya bahwa kebahagiaan harus dibayar dengan penderitaan. Mereka takut jika terlalu banyak tertawa, maka kesedihan besar akan segera datang, seperti air pasang yang menelan perahu di lautan.

Lurinha berbeda. Ia percaya bahwa hidup adalah tarian semesta, di mana setiap manusia adalah penari yang harus bergerak mengikuti irama waktu. Setiap pagi, saat fajar merekah, ia menari di ladang, membiarkan mentari menyapa wajahnya, membiarkan angin membisikkan kisah-kisah lama. Anak-anak sering mengikutinya, melompat riang di antara ilalang. Tapi tidak semua orang di dusun menyukai kebiasaannya itu.

Di sudut dusun, hiduplah seorang lelaki tua bernama Velo. Wajahnya keras seperti batu karang, matanya suram seperti langit sebelum badai. Ia pernah kehilangan keluarganya dalam satu malam petaka, dan sejak saat itu, hatinya membeku seperti tanah di musim dingin. Ia percaya, kegembiraan adalah awal dari malapetaka.

Suatu pagi, ketika Lurinha menari di tengah ladang, Velo datang dengan tatapan api.

“Mengapa kau selalu bersuka ria, Lurinha? Mengapa kau menari sementara kita semua hidup dalam penderitaan?” suaranya seperti guntur di langit senja.

Lurinha menghentikan tariannya dan menatap lelaki tua itu dengan lembut. “Tuan Velo,” katanya, “Aku sadar perjuangan ini mungkin dua arah, namun satu tujuan. Kita semua ingin bertahan, ingin hidup dengan damai. Tapi mengapa kau melampiaskan segala bentuk amarahmu padaku? Aku hanya seperti mentari yang menari, membawa secercah cahaya di antara pekatnya malam.”

Velo menggeram. “Cahaya itu tak akan bertahan, Lurinha. Malam akan selalu datang dan menelan semua sinar yang kau bawa.”

Lurinha tersenyum kecil. “Benar, malam akan datang. Tapi tidakkah kau tahu, tuan? Setiap malam yang gelap selalu berakhir dengan fajar. Tak ada malam yang tak bertemu pagi. Tak ada luka yang tak bisa sembuh. Tak ada hati yang tak bisa kembali hangat.”

Orang-orang di dusun terdiam. Kata-kata Lurinha menggema di hati mereka, seperti lonceng yang berdentang di ujung senja. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: benarkah kita harus terus hidup dalam bayang-bayang duka?

Velo menunduk. Hatinya yang lama terkunci, perlahan retak seperti es di tepi sungai yang mulai mencair. Ia melihat Lurinha, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya—kehangatan.

Sejak hari itu, mentari di Dusun Blar terasa lebih terang. Bukan karena cahayanya berubah, tapi karena hati orang-orang mulai terbuka. Lurinha tetap menari, dan perlahan-lahan, satu per satu orang mulai mengikuti langkahnya.

Sebab, seperti kata leluhur: “Jangan takut mencintai hidup, sebab meski badai datang, selalu ada pelangi yang menunggu di balik awan.”

Tamat

Dukamu Adalah Dukaku, Dukaku Adalah Dukaku


 Dukamu Adalah Dukaku, Dukaku Adalah Dukaku
By Martins.S

Dukamu adalah dukaku,
aku merasakan perih di matamu,
menyusuri jejak pedih yang kau simpan,
mendengar sunyi yang kau sembunyikan.

Namun, dukaku adalah dukaku,
tak bisa kau genggam atau kau bawa,
ia milikku, biarkan ia diam,
menemani malam tanpa janji reda.

Kita berjalan di jalan yang berbeda,
kadang beriringan, kadang berjauhan,
dukamu mungkin bisa kutemani,
tapi dukaku tetap milikku sendiri.

Jangan paksa aku membagi luka,
karena tak semua derita perlu saksi,
cukup pahami tanpa menggenggam,
cukup ada tanpa memaksa.
#final#

Sabtu, Maret 01, 2025

Ter Consciência

By: Martins.S.


Eu preciso ter consciência,
não apenas me olhar no espelho,
mas despir minhas fraquezas
sem desculpas, sem enganos.

Ainda sou falho, ainda sou frágil,
não me perdi uma ou duas vezes,
não foi apenas um erro de direção,
mas muitas vezes escolhi caminhos sem saída
com arrogância, com teimosia.

Muitas vezes não fui honesto,
com os outros, comigo mesmo,
escondendo minhas falhas
com palavras, não com mudanças.

Muitas vezes não respeitei o tempo,
querendo crescer rápido, vencer logo,
mas meus passos ainda vacilam,
minha mente ainda não é firme, meu conhecimento ainda é raso.

E agora quero responsabilidade,
quero controle, quero poder,
mas no fundo hesito,
no fundo nem confio em mim mesmo.

Não tenho experiência,
não entendo as regras,
não sei como conduzir,
mas ainda assim quero estar no topo,
por quê? Para quê?

Preciso ter consciência.
Não para diminuir meus sonhos,
mas para perceber antes de cair,
para me reerguer aprendendo,
para seguir no caminho certo.