Por Martins. S
Por Martins. S
Poema de Martines. S
Untuk siapa pun kamu, di mana pun berada,
Yang tengah berjalan, walau lelah melanda.
Hidup tak selalu mudah, tak selalu terang,
Tapi langkah kecil pun, punya daya yang gemilang.
Teruslah berusaha, meski perlahan,
Meski tak ada sorak atau tepuk tangan.
Setiap detik yang kau jalani dengan niat,
Adalah benih harapan yang kelak mendekat.
Tak perlu sempurna untuk bermakna,
Tak perlu kuat untuk terus melangkah.
Yang penting: kau coba, kau hadapi,
Dengan hati yang tak pernah benar-benar pergi.
Teruslah berusaha — bukan demi pujian,
Tapi karena di dalam dirimu, ada tujuan.
Ada cinta, ada harapan yang kau genggam,
Ada mimpi yang tumbuh dari keyakinan dalam.
Kita semua sedang belajar, sedang bertumbuh,
Dengan luka, tawa, dan waktu yang penuh.
Maka genggamlah hari ini seperti cahaya,
Karena setiap usaha, sekecil apa pun, tetap mulia.
Cinta bukan kontrak yang bersyarat,
bukan janji yang tergantung pada musim hati,
dan bukan perasaan yang menguap saat ujian datang.
Cinta, kata Paus, adalah keputusan yang kudus—
ia tidak berkata, “Aku di sini... sampai aku merasa cukup.”
Cinta sejati tidak mencintai sementara,
ia mencintai sepenuhnya.
Dalam kasih yang ilahi,
tiada ruang untuk frasa “hingga pemberitahuan selanjutnya.”
Karena kasih yang sejati tidak hidup di dalam ketakutan,
tetapi di dalam keberanian untuk menetap.
Cinta adalah
perjanjian,
bukan pilihan sesaat.
Ia mengakar di tanah pengorbanan,
dan bertumbuh di udara pengampunan.
Ia bertahan bukan karena mudah,
tetapi karena ia tahu:
yang abadi itu bukan milik yang kuat,
tetapi milik yang setia.
Tuhan sendiri telah mengajarkan kita,
melalui salib dan tubuh yang terluka:
bahwa cinta yang sejati,
tidak mencari alasan untuk pergi—
tetapi selalu mencari jalan untuk tinggal.
Maka jika engkau mencinta,
jangan bawa keraguan di hatimu,
bawalah niat yang suci,
dan keberanian untuk berkata:
“Aku di sini. Selamanya.”
Catatan
Konteks Puisi:
Puisi ini ditulis oleh Santana
Martins, terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus yang pernah disampaikan secara
mendalam dalam refleksi beliau mengenai makna sejati cinta. Dalam
pernyataan yang juga dipublikasikan oleh The New York Times, Paus
berkata:
“Love wants to be permanent; ‘until further notice’ isn’t love.”
(“Cinta ingin kekal; ‘hingga pemberitahuan selanjutnya’ bukanlah cinta.”)
Pesan ini mengingatkan kita bahwa cinta, baik dalam hubungan
manusia maupun dalam relasi dengan Tuhan, adalah keputusan yang bersifat kekal,
bukan sekadar perasaan sementara. Puisi ini lahir sebagai bentuk renungan dan
jawaban dari hati yang merindukan kasih yang tinggal, bukan pergi.
https://id.tatoli.tl/2025/04/28/regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025/
Dili, Timor-Leste
Di pagi buta yang tak menjanjikan terang,
Langit menangis deras tanpa jeda,
Dili, kota kecil penuh kenangan,
Tenggelam dalam sunyi yang membawa derita.
Air bukan sekadar genangan,
Ia datang seperti kemarahan yang tak tertahan,
Menyeret ranjang, mimpi, dan doa-doa,
Meninggalkan jejak lumpur di dada manusia.
Tangan kecil mencari ibu,
Tangis tenggelam di arus yang tak tahu arah,
Nama-nama hilang tanpa pamit,
Tertulis hanya di hati yang basah.
Tiang listrik tumbang seperti harapan,
Jalanan pecah seperti nasib yang dipatahkan,
Rumah hanyut—bukan oleh waktu,
Tapi oleh air yang tak pernah tahu belas kasihan.
Dan kota pun seolah lupa,
04 April menjadi kabut di arsip negara,
Padahal di sanalah nyawa-nyawa
Pernah berjuang melawan sia-sia.
Namun kami ingat, kami simpan,
Dalam puisi, doa, dan batu nisan,
Agar generasi mendatang tak hanya membangun tembok,
Tapi juga ingatan—dan kesiapsiagaan yang kokoh.
04 April, luka kami bukan untuk dikubur,
Tapi untuk dikenang sebagai pelajaran yang jujur.
Bukan untuk dendam,
Tapi agar air tak lagi membawa karam.
By Martins, S.
#final#
By Martins,S
By Martins.S.
Happy International Women's Day! ✨💜
by Martins.S
Beberapa abad yang lalu, di sebuah dusun kecil bernama Blar,
di Desa Maior, hiduplah seorang gadis bernama Lurinha. Ia seperti embun pagi
yang menyejukkan dedaunan, selalu membawa cahaya bagi siapa pun yang mendekat.
Senyumnya tak pernah pudar, langkahnya ringan seperti angin yang membelai
ladang gandum.
Namun, hidup di Dusun Blar tak seindah dongeng para leluhur.
Orang-orang di sana percaya bahwa kebahagiaan harus dibayar dengan penderitaan.
Mereka takut jika terlalu banyak tertawa, maka kesedihan besar akan segera
datang, seperti air pasang yang menelan perahu di lautan.
Lurinha berbeda.
Ia percaya bahwa hidup adalah tarian semesta, di mana setiap manusia adalah
penari yang harus bergerak mengikuti irama waktu. Setiap pagi, saat fajar
merekah, ia menari di ladang, membiarkan mentari menyapa wajahnya, membiarkan
angin membisikkan kisah-kisah lama. Anak-anak sering mengikutinya, melompat
riang di antara ilalang. Tapi tidak semua orang di dusun menyukai kebiasaannya
itu.
Di sudut dusun,
hiduplah seorang lelaki tua bernama Velo. Wajahnya keras seperti batu karang,
matanya suram seperti langit sebelum badai. Ia pernah kehilangan keluarganya
dalam satu malam petaka, dan sejak saat itu, hatinya membeku seperti tanah di
musim dingin. Ia percaya, kegembiraan adalah awal dari malapetaka.
Suatu pagi,
ketika Lurinha menari di tengah ladang, Velo datang dengan tatapan api.
“Mengapa kau
selalu bersuka ria, Lurinha? Mengapa kau menari sementara kita semua hidup
dalam penderitaan?”
suaranya seperti guntur di langit senja.
Lurinha
menghentikan tariannya dan menatap lelaki tua itu dengan lembut. “Tuan
Velo,” katanya, “Aku sadar perjuangan ini mungkin dua arah, namun satu
tujuan. Kita semua ingin bertahan, ingin hidup dengan damai. Tapi mengapa kau
melampiaskan segala bentuk amarahmu padaku? Aku hanya seperti mentari yang
menari, membawa secercah cahaya di antara pekatnya malam.”
Velo menggeram. “Cahaya
itu tak akan bertahan, Lurinha. Malam akan selalu datang dan menelan semua
sinar yang kau bawa.”
Lurinha tersenyum
kecil. “Benar, malam akan datang. Tapi tidakkah kau tahu, tuan? Setiap malam
yang gelap selalu berakhir dengan fajar. Tak ada malam yang tak bertemu pagi.
Tak ada luka yang tak bisa sembuh. Tak ada hati yang tak bisa kembali hangat.”
Orang-orang di
dusun terdiam. Kata-kata Lurinha menggema di hati mereka, seperti lonceng yang
berdentang di ujung senja. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: benarkah
kita harus terus hidup dalam bayang-bayang duka?
Velo menunduk.
Hatinya yang lama terkunci, perlahan retak seperti es di tepi sungai yang mulai
mencair. Ia melihat Lurinha, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun,
ia merasa sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya—kehangatan.
Sejak hari itu,
mentari di Dusun Blar terasa lebih terang. Bukan karena cahayanya berubah, tapi
karena hati orang-orang mulai terbuka. Lurinha tetap menari, dan
perlahan-lahan, satu per satu orang mulai mengikuti langkahnya.
Sebab, seperti
kata leluhur: “Jangan takut mencintai hidup, sebab meski badai datang,
selalu ada pelangi yang menunggu di balik awan.”
✨ Tamat ✨
By: Martins.S.