Jumat, Juni 13, 2025
“Engkau yang Bisa Segalanya”
Racun di Ujung Lidah
Oleh Martins. S
El Veneno en la Punta de la Lengua
Por Martines. S
La lengua no tiene huesos, pero puede paralizar,
cuando falta la verdad al actuar y al hablar.
Desde su punta fluye un veneno sutil,
que envenena la paz y rompe lo frágil.
Puede matar sin derramar sangre,
destruir un nombre, apagar el hambre.
Un carácter forjado por años de valor,
puede caer por una frase sin amor.
La lengua puede odiar, herir en silencio,
incitar sin pasos, dañar sin argumento.
Pero también puede ser medicina y consuelo,
si habla con verdad y con anhelo.
La lengua nos lleva por donde andamos,
nos guía si con sinceridad caminamos.
Puede mostrar el sendero correcto,
o matar en secreto, frío y directo.
Por eso cuida tu lengua como un tesoro,
úsala para sanar, no para causar desespero.
Porque cada palabra que deja tu voz,
puede ser bendición... o puede ser cruz.
O Veneno na Ponta da Língua
Por Martins. S
Quando as Palavras Ferem
Poema de Martines. S
Kamis, Juni 12, 2025
Quatro Dedos Para Mim
Poema de Martins. S
Selasa, Mei 20, 2025
Teruslah Berusaha
by Matins.S
Untuk siapa pun kamu, di mana pun berada,
Yang tengah berjalan, walau lelah melanda.
Hidup tak selalu mudah, tak selalu terang,
Tapi langkah kecil pun, punya daya yang gemilang.
Teruslah berusaha, meski perlahan,
Meski tak ada sorak atau tepuk tangan.
Setiap detik yang kau jalani dengan niat,
Adalah benih harapan yang kelak mendekat.
Tak perlu sempurna untuk bermakna,
Tak perlu kuat untuk terus melangkah.
Yang penting: kau coba, kau hadapi,
Dengan hati yang tak pernah benar-benar pergi.
Teruslah berusaha — bukan demi pujian,
Tapi karena di dalam dirimu, ada tujuan.
Ada cinta, ada harapan yang kau genggam,
Ada mimpi yang tumbuh dari keyakinan dalam.
Kita semua sedang belajar, sedang bertumbuh,
Dengan luka, tawa, dan waktu yang penuh.
Maka genggamlah hari ini seperti cahaya,
Karena setiap usaha, sekecil apa pun, tetap mulia.
Selasa, April 29, 2025
Cinta Tidak Menunggu Pemberitahuan
Cinta bukan kontrak yang bersyarat,
bukan janji yang tergantung pada musim hati,
dan bukan perasaan yang menguap saat ujian datang.
Cinta, kata Paus, adalah keputusan yang kudus—
ia tidak berkata, “Aku di sini... sampai aku merasa cukup.”
Cinta sejati tidak mencintai sementara,
ia mencintai sepenuhnya.
Dalam kasih yang ilahi,
tiada ruang untuk frasa “hingga pemberitahuan selanjutnya.”
Karena kasih yang sejati tidak hidup di dalam ketakutan,
tetapi di dalam keberanian untuk menetap.
Cinta adalah
perjanjian,
bukan pilihan sesaat.
Ia mengakar di tanah pengorbanan,
dan bertumbuh di udara pengampunan.
Ia bertahan bukan karena mudah,
tetapi karena ia tahu:
yang abadi itu bukan milik yang kuat,
tetapi milik yang setia.
Tuhan sendiri telah mengajarkan kita,
melalui salib dan tubuh yang terluka:
bahwa cinta yang sejati,
tidak mencari alasan untuk pergi—
tetapi selalu mencari jalan untuk tinggal.
Maka jika engkau mencinta,
jangan bawa keraguan di hatimu,
bawalah niat yang suci,
dan keberanian untuk berkata:
“Aku di sini. Selamanya.”
Catatan
Konteks Puisi:
Puisi ini ditulis oleh Santana
Martins, terinspirasi dari pesan Paus Fransiskus yang pernah disampaikan secara
mendalam dalam refleksi beliau mengenai makna sejati cinta. Dalam
pernyataan yang juga dipublikasikan oleh The New York Times, Paus
berkata:
“Love wants to be permanent; ‘until further notice’ isn’t love.”
(“Cinta ingin kekal; ‘hingga pemberitahuan selanjutnya’ bukanlah cinta.”)
Pesan ini mengingatkan kita bahwa cinta, baik dalam hubungan
manusia maupun dalam relasi dengan Tuhan, adalah keputusan yang bersifat kekal,
bukan sekadar perasaan sementara. Puisi ini lahir sebagai bentuk renungan dan
jawaban dari hati yang merindukan kasih yang tinggal, bukan pergi.
Regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025
https://id.tatoli.tl/2025/04/28/regulasi-resep-medis-di-timor-leste-undang-undang-no-7-2025/
Sabtu, April 05, 2025
"04 April 2021, Air Membawa Luka"
"04 April 2021, Air Membawa Luka"
Dili, Timor-Leste
Di pagi buta yang tak menjanjikan terang,
Langit menangis deras tanpa jeda,
Dili, kota kecil penuh kenangan,
Tenggelam dalam sunyi yang membawa derita.
Air bukan sekadar genangan,
Ia datang seperti kemarahan yang tak tertahan,
Menyeret ranjang, mimpi, dan doa-doa,
Meninggalkan jejak lumpur di dada manusia.
Tangan kecil mencari ibu,
Tangis tenggelam di arus yang tak tahu arah,
Nama-nama hilang tanpa pamit,
Tertulis hanya di hati yang basah.
Tiang listrik tumbang seperti harapan,
Jalanan pecah seperti nasib yang dipatahkan,
Rumah hanyut—bukan oleh waktu,
Tapi oleh air yang tak pernah tahu belas kasihan.
Dan kota pun seolah lupa,
04 April menjadi kabut di arsip negara,
Padahal di sanalah nyawa-nyawa
Pernah berjuang melawan sia-sia.
Namun kami ingat, kami simpan,
Dalam puisi, doa, dan batu nisan,
Agar generasi mendatang tak hanya membangun tembok,
Tapi juga ingatan—dan kesiapsiagaan yang kokoh.
04 April, luka kami bukan untuk dikubur,
Tapi untuk dikenang sebagai pelajaran yang jujur.
Bukan untuk dendam,
Tapi agar air tak lagi membawa karam.
Kamis, April 03, 2025
O País das Promessas
By Martins, S.
#final#
Selasa, Maret 25, 2025
Na Limiar da Porta
By Martins,S
Sabtu, Maret 08, 2025
Women, the Light of the World
Women, the Light of the World
By Martins.S.
Happy International Women's Day! ✨💜

