Selasa, Januari 07, 2020
DRUG MANAGEMENT ANALYSIS IN THE DEPARTMENT OF PHARMACY HOSPITAL NACIONAL GUIDO VALADARES DILI TIMOR LESTE 2017
Minggu, Januari 05, 2020
Metode Pemecahan Masalah (Problem
Solving Method)
a. Pengertian Metode Pemecahan Masalah (Problem solving
Method)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah
penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa
menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun
masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Penyelesaian masalah merupakan proses dari menerima tantangan dan
usaha – usaha untuk menyelesaikannya sampai menemukan penyelesaiannya. menurut
Syaiful Bahri Djamara (2006 : 103) bahwa:
Metode problem solving (metode pemecahan masalah)
bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode
berfikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode
lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
Menurut N.Sudirman (1987:146) metode problem solving adalah
cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak
pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan
atau jawabannya oleh siswa. Sedangkan menurut Gulo (2002:111)
menyatakan bahwa problem solving adalah metode yang
mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada terselesaikannya
suatu masalah secara menalar.
Senada dengan pendapat diatas Sanjaya (2006:214) menyatakan pada
metode pemecahan masalah, materi pelajaran tidak terbatas pada buku saja tetapi
juga bersumber dari peristiwa – peristiwa tertentu sesuai dengan kurikulum yang
berlaku. Ada beberapa kriteria pemilihan bahan pelajaran untuk
metode pemecahan masalah yaitu:
a) Mengandung isu – isu yang
mengandung konflik bias dari berita, rekaman video dan lain – lain
b) Bersifat familiar dengan
siswa
c) Berhubungan dengan
kepentingan orang banyak
d) Mendukung tujuan atau kompetensi
yang harus dimiliki siswa sesuai kurikulum yang berlaku
e) Sesuai dengan minat siswa
sehingga siswa merasa perlu untuk mempelajari
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari metode
pemecahan masalah banyak digunakan guru bersama dengan penggunaan metode
lainnya. Dengan metode ini guru tidak memberikan informasi
dulu tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalahnya.
Pembelajaran pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan
melalui praktikum atau pengamatan.
Suatu soal dapat dipandang sebagai “masalah” merupakan hal yang
sangat relatif. Suatu soal yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang, bagi
orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin belaka. Dengan demikian, guru
perlu berhati-hati dalam menentukan soal yang akan disajikan sebagai pemecahan
masalah. Bagi sebagian besar guru untuk memperoleh atau menyusun soal yang
benar-benar bukan merupakan masalah rutin bagi siswa mungkin termasuk pekerjaan
yang sulit. Akan tetapi hal ini akan dapat diatasi antara lain melalui
pengalaman dalam menyajikan soal yang bervariasi baik bentuk, tema masalah,
tingkat kesulitan, serta tuntutan kemampuan intelektual yang ingin dicapai atau
dikembangkan pada siswa.
Pembelajaran problem solving merupakan bagian
dari pembelajaran berbasis masalah (PBL). Menurut Arends (2008 : 45)
pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di
mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun
pengetahuan mereka sendiri.
Pada pembelajaran berbasis masalah siswa dituntut untuk melakukan
pemecahan masalah-masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi
sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dicari solusi dari permasalahan
yang ada. Solusi dari permasalahan tersebut tidak mutlak mempunyai satu jawaban
yang benar artinya siswa dituntut pula untuk belajar secara kritis. Siswa
diharapkan menjadi individu yang berwawasan luas serta mampu melihat hubungan
pembelajaran dengan aspek-aspek yang ada di lingkungannya.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan metode
pembelajaran problem solving adalah suatu penyajian materi
pelajaran yang menghadapkan siswa pada persoalan yang harus dipecahkan atau
diselesaikan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa
di haruskan melakukan penyelidikan otentik untuk mencari penyelesaian terhadap
masalah yang diberikan. Mereka menganalisis dan mengidentifikasikan masalah,
mengembangkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi dan membuat
kesimpulan.
b. Manfaat dan Tujuan
dari Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)
Manfaat dari penggunaan metode problem solving pada
proses belajar mengajar untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik.
Menurut Djahiri (1983:133) metode problem solving memberikan
beberapa manfaat antara lain :
a) Mengembangkan
sikap keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan, serta dalam mengambil
kepuutusan secara objektif dan mandiri
b) Mengembangkan
kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang menyatakan bahwa kemampuan
berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah
c) Melalui
inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses
dalam situasi atau keadaan yang bener – bener dihayati, diminati siswa serta
dalam berbagai macam ragam altenatif
d) Membina
pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif
– mandiri, krisis – analisis baik secara individual maupun kelompok
Berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan
yang hendak dicapai. Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah
sebagai berikut.
1) Siswa menjadi terampil
menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya
meneliti kembali hasilnya.
2) Kepuasan intelektual akan
timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.
3) Potensi intelektual
siswa meningkat.
4) Siswa belajar bagaimana
melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan.
c. Langkah – Langkah Metode
Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)
Penyelesaian masalah menurut J.Dewey dalam bukunya W.Gulo
(2002:115) dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu
Tahap – Tahap
|
Kemampuan yang diperlukan
|
1) Merumuskan
masalah
|
Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas
|
2) Menelaah masalah
|
Menggunakan pengetahuan untuk memperinci menganalisa
masalah dari berbagai sudut
|
3) Merumuskan
hipotesis
|
Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab –
akibat dan alternative penyelesaian
|
4) Mengumpulkan dan
mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis
|
Kecakapan mencari dan menyusun data menyajikan data
dalam bentuk diagram,gambar dan tabel
|
5) Pembuktian
hipotesis
|
Kecakapan menelaah dan membahas data, kecakapan
menghubung – hubungkan dan menghitung
Ketrampilan mengambil keputusan dan kesimpulan
|
6) Menentukan
pilihan penyelesaian
|
Kecakapan membuat altenatif penyelesaian kecakapan
dengan memperhitungkan akibat yang terjadi pada setiap pilihan
|
Rabu, Agustus 21, 2019
Senyum yang Terlena
Di singgasana kuasa, senyummu manis,
Menghipnotis jiwa, tak lagi berpikir rasional.
Di balik tirai emas, kau menghina masa lalu,
Pendahulu yang pernah berdiri teguh, kini kau cerca dan musuhi.
Kekuasaan di tanganmu, seolah tak tergoyahkan,
Namun, dalam setiap langkahmu, tiada arah, tiada tujuan.
Mereka yang setia, kau sisihkan tanpa alasan,
Mencari bayangan yang kau bentuk dari ego dan kesombongan.
Orang-orang di sekitar, kau angkat tanpa proses,
Mereka menduduki kursi, namun tak tahu apa yang harus dilakukan.
Menghapus sejarah, kau ciptakan dunia baru,
Namun, apakah dunia ini benar-benar milikmu?
Pendahulu kau salahkan, dosa mereka kau besarkan,
Namun, apa yang telah kau hasilkan, selain kehancuran dan keheningan?
Di akhir masa, kau akan melihat,
Bahwa senyum manis itu tak selamanya memberi kebahagiaan.
Arogansi dan ego, hancurkan segala,
Namun, ingatlah, kekuasaan hanyalah bayang-bayang yang fana.
Dan pada akhirnya, kau akan sadar,
Bahwa cinta yang tulus, tidak bisa dibeli dengan senyum yang manis.
Akan tiba waktunya, kekuasaanmu diuji,
Apakah akan tetap jaya di periode berikutnya,
Ataukah akan memudar, tersapu oleh angin perubahan,
Saat mereka yang kau abaikan bangkit dan menuntut kebenaran.
Dalam kesunyian malam, kau akan terjaga,
Bertanya pada diri, apakah semua ini sepadan.
Karena tak ada yang abadi di dunia ini,
Kecuali jejak-jejak yang kita tinggalkan dalam hati.
**Final**
Sabtu, Desember 02, 2017
AUTORIDADE VIGILANSIA SANITARIA TIMOR-LESTE
- Notifika ba iha autoridade kompetente ba iha empresa lokais konaba kondisaun
operasional ne'ebe la nessesita ne’ebe detetadu no halo prosesu sansaun tuir lei
aplikavel hanesan koima, hapara provisorio ka hasai lisensia de autorizasaun ou
karik bainhira sira atu halo prosesu renovasaun.
- Kontrolu ba kualidade be mos ne'ebe ba konsume publiku nia, garafas, ka tanki
no be matan ebe utiliza husi komunidade, fo hatene mos ba autoridade kompetentes
bainhira presiza konaba medidadas ne'ebe adopta hodi minimiza ou halakon risku ba
Saúde, bele mos foti dezisaun provisorio husi nia tarefas to’o bainhira ninia risku iha bele
halakon.
- Halo kumprimentu konaba norma moras trasmisseveis, iha fatin servisu,eskola,
liliu bainhira mosu epidemia.
- Halo internamento ka tratamento espesial ruma ba individu bainhira mosu situasaun
ruma ne'ebe preujudika Saúde publika, sei define liu husi lei espesial Saúde nian.
Kamis, Oktober 19, 2017
FORUM HAKSESUK: Oral Seks VS Kankru Ibun
Minggu, Agustus 20, 2017
KUMPULAN SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR): SOP & CARA VERBEDEN (GANTI LAKEN) DENGAN PASIEN DI...
Minggu, Agustus 06, 2017
FORUM HAKSESUK: Menjamin Keselamatan ibu Saat Melahirkan, Mengapa ...
Jumat, Agustus 04, 2017
O PAPEL DO ENFERMEIRO NO DESENVOLVIMENTO SAUDE DA NACAO
A situação que ocorreu hoje, a competência dos enfermeiros ainda é posta em dúvida por alguns partidos. Muitos enfermeiros não são competentes para exercer as suas funções, por exemplo, apenas alguns enfermeiros que são capazes de memorizar pelo menos 8 cuidados de enfermagem fora da cabeça e muito menos implementá-lo, enquanto que os cuidados de enfermagem está no centro dos serviços de enfermagem. Para melhorar a competência enfermeira é a necessidade de coordenação entre o ensino ea prática no serviço, por isso não há sincronização entre os requisitos de educação e de trabalho necessário hoje, então o processo de retirada de enfermeiros graduados frescos para considerar a qualidade. de modo que as qualificações de acordo com a potência necessária. Além do padrão de competência exigido para garantir que os graduados têm as habilidades certas, é necessário testar a competência para os enfermeiros. Este teste de competência selecionará enfermeiros são competentes e incompetentes, então enfermeiras incompetentes vai aumentar seus conhecimentos e habilidades. Este padrões de competência será da responsabilidade do Conselho e existem associações porque é na necessidade de enfermagem seu conselho. Estas competências serão a base / fundação para graduados para prestar um bom serviço.
Melhorar a qualidade dos serviços de enfermagem também deve estar em consonância com o seu sistema de educação continuada da educação continua depois Serviços de ensino pré-profissional. enfermeiros profissionais devem continuar a sua educação com o objetivo de ser capaz de fornecer cuidados de enfermagem diplomados mais recentes eficaz para que mais tarde o mais dominante no ministério é de enfermagem. Além disso, também são esperados enfermeiros para ter a combinação de competências de competência (combinação com outra equipe de saúde) a cooperação de aplicativos entre médicos, enfermeiros, outros profissionais de saúde e pessoal de apoio. Combinação de competências não está a funcionar de forma otimizada competência em Timor-Leste de modo que a necessidade de regras e procedimentos claros para as autoridades e competências necessárias para a mistura de habilidade eficaz.
Enfermagem é uma profissão que, quando otimizado, ele vai trazer uma influência considerável sobre a melhoria da saúde da nação. para otimizar a equipe de enfermagem está na necessidade de um regulamento ou uma política clara sobre a profissão de enfermagem e a necessidade de envolver os enfermeiros em fazer a própria política. de modo que a própria política pode ser feita como uma base para o desenvolvimento da enfermagem terá um impacto sobre o desenvolvimento da saúde em Timor-Leste. Por isso, o governo precisa realizar uma avaliação da medida em que a política é uma política pode trazer a mudança para a comunidade e de enfermagem, enfermeiros envolvidos na formulação de políticas de saúde e imediatamente aprovou a Lei de enfermagem onde a lei de enfermagem é importante não só para os enfermeiros, mas também para a comunidade em geral.

